Cerpen

Cerpen: Bintang dan Bulan

Oleh: Nayla Rahma Febriani

Di suatu malam yang dingin duduk lah seorang gadis di sebuah balkon dengan secangkir susu hangat yang ia pegang.

“SRURPRP”

Ia meminum susu itu dengan perlahan sambil menatap bintang dan bulan yang terpapar jelas di hadapan dia.

“Mereka berdua sangat indah dengan saling melangkapi satu sama lain,” ucap gadis tersebut. Meskipun bintang terlihat kecil dan banyak orang sering kali melupakan dia, bintang menjadi salah satu penerang bulan dalam kegelapan, tanpa ada nya bintang bulan menjadi tidak seindah yang orang-orang bayangkan.

“DOKK DOKK DOKK” Suara ketukan dari sebuah pintu, gadis tersebut turun dan bergegas untuk membuka pintu.

“Lohh kamuu!!” ucap gadis tersebut, seorang pria tinggi bernama Angkasa menjumpai gadis tersebut, Angkasa ialah sahabat lama gadis tersebut mereka berteman sejak duduk di bangku SMP.

“Nihh minum sama pake jaket aku di luar lagi dingin” ucap gadis tersebut. Angkasa berkata, “Terimakasih yaa, peka banget jadi orang”. Mereka berdua sering kali duduk berdua di balkon sambil menikmati indah nya malam, tak lupa dengan berbagai pertanyaan yang membuat pembicaraan mereka terasa lebih dalam.

“Gimana kabarnya?” ucap Angkasa.

“Baik kokk, meskipun sedikit sedih,” ucap gadis tersebut. Angkasa berkata, “Kenapa emang nya kalau boleh tau?”

Terdiam sejenak gadis tersebut menceritakan pengalaman baru bertemu dengan orang baru yang dimana gadis tersebut baru menginjak di bangku SMA.

“Aku cape, aku belum terbiasa dengan semua ini banyak orang baru di luar sana yang baru aku kenal” ucap gadis tersebut sambil merunduk. “Udah tenang aja, ada saatnya kita untuk keluar dari zona nyaman dan memulai dengan kebiasaan baru,” ucap Angkasa sambil mengelus pundak gadis tersebut. Gadis tersebut meneteskan air mata karena gadis tersebut belum sanggup dengan kehidupan baru nya, Angkasa bergegas mengambil obat kortikosteriod.

“HRUFPFPFP” Gadis tersebut menghisap alat tersebut dan Angkasa berkata, “Kenapa sih kamu nangis? Kamu lupa sama kesehatan kamu sampai-sampai kamu jadi seperti ini,”

Gadis tersebut memiliki penyakit sesak nafas ketika dia terkejut maupun bersedih.

“Iya aku minta maaf, aku ingin menangisi ini semua,” ucap gadis tersebut sambil tersendak – sendak. Angakasa pun terdiam setelah mendengar perkataan gadis tersebut.

Angkasa menceritakan pengalaman dia ketika tidak satu bangku bersama gadis tersebut, “Aku juga seperti kamu, aku juga bias rasakan apa yang kamu rasakan, rasa kecewa, sedih semua tercampur jadi satu,” ucap Angkasa sambil menatap dalam gadis tersebut.

Gadis tersebut layaknya sebuah bintang yang menyinari semua isi bulan dan angkasa di luar sana, mungkin terkesan kecil dan lemah tapi di balik semua itu bintang menjadi sangat penting di kehidupin alam ini.

“SRURPRP” Seruput an terakhir dari susu hangat yang dibuat oleh gadis tersebut, Angkasa berkata,

“Ada dimana kita butuh waktu untuk merenungkan semua kelelahan kita, tetapi lelah bukan berarti berhenti, kita harus tetap selalu maju terus dan keluar dari zona nyaman yang selalu membuat kita berhenti di situ terus”.

Gadis berkata, “Iyaa, aku paham apa yang kamu katakana, aku juga berterimakasih untuk semua dukungan kamu ke aku,”

Gadis tersebut dan Angkasa bagaikan bulan dan bintang yang dimana memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena dari itu keduanya saling menutupi kekurangan dengan kelebihan yang dimiliki oleh gadis tersebut dan Angkasa.

Penulis merupakan seorang siswi SMA Khadijah yang tengah sibuk berkelana dalam ekskul jurnalistik

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *