Menghidupkan Kembali Semangat Mencari Barokah Kiai dan Guru pada Santri

Hari santri 22 Oktober 2020 mengingatkan penulis bahwa 20 tahun silam mempertanggungjawabkan penelitian di depan lima dosen penguji mengenai Hubungan antara Persepsi Santri terhadap Barokah Kiai dengan Motivasi Belajar Santri. Hari Santri membuat penulis terinspirasi membaca kembali tulisan tersebut dan terhubung dengan fenomena naik turunnya motivasi belajar santri di masa pembelajaran jarak jauh saat ini. … [Read more…]

Cerpen: Panggil Saja Tata

Oleh: Penyair Amatir | 01 Siang itu, sebelas tahun yang lalu. Seorang perempuan mendatangi saya. Ia mengucapkan salam. Tersenyum. Duduk di bangku taman. Tepat di sebelah kanan saya. Ia mengenalkan diri. Namanya Rosetta. “Panggil saja Tata” Tentu saya tak peduli. Saya tak ada urusan untuk mengingat nama panggilan orang yang tidak ada urusan dengan saya. … [Read more…]

Cerpen: Halo Apakah Aku Baik-Baik Saja?

| Penyair Amatir Marisa memesan teh hangat. Baru saja ia menandaskan kopi pahit kesukaannya. Satu jam yang lalu, kekasihnya memutuskan dirinya. “Aku ingin hubungan kita selesai sampai di sini. Kuharap kamu mengerti” Marisa tersedak. Ia menatap lelaki yang hampir dua tahun bersamanya dalam suka dan duka itu. “Ini tidak ada kaitannya dengan siapapun. Ini keputusanku … [Read more…]

Cerpen: Sebuah Pertanyaan untuk Guru

| Sebagai pengajar atau guru, bagaimana tanggapan terkait pembelajaran daring? Saya terkejut membaca pesan itu. Biasanya pesan (sms) yang sering saya terima yakni kabar gembira yang sekaligus menjengkelkan. | Selamat Anda menjadi pemenang blablabla| Dapatkan pinjaman tanpa survei blablabla Tentu beragam lainnya yang seperti itu. Yang kadang-kadang jika lagi gembira saya layani juga dengan tak … [Read more…]

Ceritaku: Udang Rebus

Pagi ini, saat kelas online sedang berjalan dengan khidmat, tiba-tiba HP ku berbunyi berulang kali “Line.. line..” ya begitulah bunyinya. Segera aku membuka dan membaca pesannya, ternyata berasal dari grup Bahasa Indonesia. Disana tertulis bahwa kita diberi tugas untuk membuat sebuah karangan tetapi dengan tema yang spesial, yaitu kejadian memalukan yang pernah dialami. Sontak seperti … [Read more…]

Cerpen: Tangis yang Ketiga

Tangis pertama yang ku ingat, ketika aku duduk di bangku SMA 7 Banjarmasin. Saat SMA aku tinggal di sebuah kamar kos-kosan, bersama seniorku Udin. Mungkin kamar yang kami tempati lebih pantas disebut sebagai serambi karena kamar kami menempel pada rumah pemiliknya—sebuah keluarga dengan beberapa anak gadis dan cucu perempuan. Kami menyusuri gang sempit di antara serambi rumah-rumah lain menuju sekolah. Tapi itulah kos-kosan paling murah yang berada di sekitar sekolah kami.