Film

Downfall; The Case Againts Boing: Fakta Di Balik Jatuhnya JT610

Judul: Downfall; The Case Againts Boing
Genre: Documentary
Rating: 16+
Rilis: 18 Februari 2022
Sutradara: Rory Kennedy
Penulis: Mark Bailey & Keven McAlester
Rumah Produksi: Imagine Documentaries, Moxie Film, dan Moxie

Downfall; The Case Againts Boeing merupakan film dokumenter yang mengungkap banyak kebenaran di balik kasus jatuhnya dua pesawat Boeing 737 MAX seri terbaru garapan Boeing pada saat itu. Boeing dikenal sangat baik dalam memproduksi pesawat yang aman, andal, serta dikagumi dan disukai oleh para pilot dan penumpang. Banyak orang percaya pada Boeing, hingga kasus pertama terjadi di Indonesia.

Lion Air JT-610 jatuh di laut jawa tidak lama setelah lepas landas dari bandara pada 29 Oktober 2018. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar bagi publik mengenai apa penyebab jatuhnya pesawat ini. Lion Air JT-610 jatuh dengan kondisi cuaca cerah, posisi masih dekat dengan bandara, dan menggunakan pesawat seri terbaru yaitu Boeing 737 MAX yang merupakan versi pembaruan dari Boeing 737.

Lalu selang 19 minggu setelah peristiwa jatuhnya Lion Air JT-610 pesawat Eithiopian Airlines ET-302 jatuh di dekat kota Bishoftu dengan kronologi yang serupa dengan Lion Air JT-610. Dua kecelakaan pesawat dalam kurun waktu yang berdekatan ini telah merenggut 346 nyawa dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban.

Pada kasus pertama yaitu jatuhnya Lion Air JT-610 banyak media menggiring opini menyalahkan maskapai atau pilot yang menerbangkan pesawat tanpa memikirkan kemungkinan lain yang bisa terjadi, seperti mungkin ada yang salah dengan desain pesawatnya? terdengar mustahil rasanya jika Boeing membuat sebuah kesalahan pada pesawat yang mereka ciptakan, tapi itulah faktanya. Pada awalnya Boeing menyatakan bahwa Lion Air JT-610 jatuh akibat kelalaian kru dan pilot yang tidak menjalankan prosedur yang berlaku, lalu selanjutnya Boeing merilis pernyataan bahwa Lion Air JT-610 mengalami masalah aktivasi MCAS (Maneuver Characteristics Augmentation System). MCAS adalah perangkat lunak yang terhubung ke sensor sudut serang, berfungsi untuk memutar stabilisator horizontal setiap kali ia mendeteksi bahwa sudut serang terlalu besar dan ini akan menurunkan hidung pesawat secara perlahan.

Yang mengejutkan adalah Boeing tidak pernah memberitahu pilot maupun maskapai mengenai adanya sistem MCAS di pesawat mereka, hal ini disampaikan langsung oleh pejabat perusahaan Boeing pada pewawancara. Kesalahan fatal Boeing adalah menutup-nutupi fakta berisi informasi penting dari para pilot. Para pilot harus mencari informasi sebanyak mungkin mengenai pesawat yang mereka terbangkan, karena ini demi keselamatan kru dan juga para penumpang.

Setelah merilis pernyataan mengenai MCAS Boeing menyatakan bahwa akan segera memperbaiki sistem tersebut dan memberi arahan terkait sistem ini, namun hasilnya nihil karena Boeing berusaha seminimal mungkin dan menampik kenyataan bahwa ada yang salah dengan desain pesawat mereka. Bahkan pada kasus kedua yakni peristiwa jatuhnya Eithiopian Airlines ET-302 Boeing kembali menuduh kru dan pilot pesawat tidak menjalankan prosedur yang berlaku. Padahal pada kenyataannya pilot pesawat Eithiopian Airlines telah mengikuti prosedur yang diberikan oleh Boeing mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika sistem MCAS menyala, namun tetap saja pesawat itu jatuh. Ini sudah cukup membuktikan bahwa ada yang salah dengan desain dan sistem Boeing 737 MAX.

Boeing yang pada awalnya berfokus pada kualitas dan keamanan kini beralih fokus untuk menaikkan harga saham dan keuntungan. Adanya persaingan antara Airbus dan Boeing juga menjadi salah satu faktor penyebab fokus Boeing pada keamanan yang sudah menjadi prioritas melemah digantikan dengan gila target penjualan tanpa memikirkan masalah kualitas dan masukan dari karyawan.

Menururt saya berkat film dokumenter ini semua kebenaran dapat terungkap, dan adil bagi keluarga korban. Akan tetapi banyak bahasa teknis yang terasa asing dan mungkin tidak mudah dimengerti untuk orang awam.

Pengulas: Nadya Putri A.P

Penulis merupakan salah satu siswi di SMA Khadijah Surabaya yang duduk di bangku kelas X MIPA 1

pict: kompas.com

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *