#Eps. 3 – Guru Favorit

Sebelum Allam berada di India, dia tidak memiliki impian. Satu-satunya target yang ia miliki pada masa ini adalah untuk mencapai nilai yang lebih baik daripada teman-temannya. Dia tidak peduli dengan hal lain. Bahkan, pada suatu saat, Allam menyadari bahwa dia tidak memahami dirinya sendiri. Dia terlalu sibuk melindungi dirinya dari orang lain sampai ia tidak menyadari apa yang ia lindungi.

Rasanya seperti jika seandainya kamu memperoleh suatu koin emas yang telah tertulis di berbagai legenda, tapi ternyata “koin” itu hanyalah bungkusnya coklat. Agak mengecewakan. Bagaimanapun, semua itu berubah ketika ia bertemu dengan guru di Learnium School yang bernama Morgan (Catatan: Allam sendiri tidak yakin cara mengejakan namanya dia. Terdengarnya seperti itu, tapi dia tidak tahu tata cara namanya orang Turkmenistan). Pak Morgan bertugas mengajar bahasa Inggris di sekolah ini. Dia merupakan salah satu guru yang dapat mengontrol kelasnya dengan baik; setiap kali ia berbicara, kelasnya menjadi diam dan penuh perhatian. Kadang-kadang ia bisa menjadi guru yang keras, kadang-kadang ia suka bergurau. Tetapi, dan ini bagian yang paling penting, ketika ia mengajar, terlihat bahwa ia sangat menyukai apa yang ia ajarkan.

Bagian yang terakhir itulah yang paling mengejutkan Allam. Sebelumnya, dia hanya mengenali guru-guru yang terlihat tidak tertarik dengan apa yang mereka ajarkan. Mereka hanya menulis catatan di papan tulis, dan menyuruh murid-muridnya untuk mengerjakan PR. Itulah yang terjadi ketika hanya ada sekitar tiga guru yang mengajar satu kelas.

Pak Morgan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, adalah kebalikannya mereka. Bahasa tubuhnya dan cara bicaranya sudah menunjukkan antusiasmenya dia. Setiap kali ia bertanya, ia mendorong murid-muridnya untuk menjawabnya dengan kreatif; bukan langsung mengambil dari buku. Dia juga mendorong mereka untuk membaca buku setiap hari.

Setelah berberapa waktu, sifat antusiasmenya Pak Morgan akhirnya menular kepada Allam. Dia menyadari bahwa meskipun India mempunyai banyak kelemahan, negara ini ternyata sangat bagus dalam memasarkan buku literatur. Harga-harga buku di negara ini murah dibanding dengan negara lain. Jadi, ia mencobanya. Dia memulai dari satu buku. Lalu dua. Pada akhirnya, buku-buku yang Allam baca menjadi menumpuk. Dan, antusiasmenya kepada cerita fiksi tidak hanya terbatas pada buku saja. Dia mulai mengapresiasi cerita-cerita yang terdapat pada media film, kartun,  dan bahkan game.

Ini merupakan masa yang sangat penting bagi Allam. Wawasannya mulai meluas. Dia mulai memahami tentang sudut pandangnya orang lain. Dunia ternyata jauh lebih kompleks dari apa yang dia bayangkan. Dan, pada suatu saat, ia mulai ingin menulis sebuah cerita. Cerita yang sangat besar. Dia tidak yakin jika ceritanya ini akan menjadi bagus, tapi ia yakin bahwa ia akan menikmati proses pembuatannya. Apakah cerita ini? Eh…mari kita membahas ini dalam waktu lain. Ini bukan bab yang cocok untuk membahas itu.

Yang jelas, dia lalu menyadari bahwa untuk mencari inspirasi cerita, serta karakter-karakter yang akan berada di dalamnya, dia harus mulai dari melihat lingkungan sekitarnya. Teman-temannya yang pada awalnya ia jauhi, ia sekarang malah dekati. Dia mengamati semua kejadian yang terjadi di sekolahnya. Dan dia mulai mengamati emosi-emosi dirinya. Orang-orang lain menggunakan fiksi untuk melarikan diri dari kenyataan. Allam malah menggunakannya sebagai alat untuk mendekatkan diri kepadanya. Dia tidak mungkin akan mencoba ini jika ia tidak pernah bertemu dengan Pak Morgan. Itulah mengapa Pak Morgan merupakan guru favoritnya Allam.

Episode 1 – DUNIA ALLAM

Episode 2 – DUNIA ALLAM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *