Jalan Merah (EPS 1 – Celaka)

Oleh: Mutia Bahalwan

Hujan menyapu bersih suara dengkuran yang menyisakan rintik-rintik mimpi yang telah berakar. Masih terlalu pagi. Begitu bisik alam untuk membutakan mata orang-orang yang nyaris terbungkus dalam selimut.

“Tidurlah hingga kau puas, tapi ikan di laut sedang kelaparan,” bisik mulut batinku yang senonoh mematikan lagu ninabobo yang sengaja kuputar di kepala. Ah, mengais lagi rupanya, keluh hatiku setengah mati.

Sial! Bukan setengah mati, tapi hampir mati. Tubuhku terlalu memanjakan ranjang yang telanjang tanpa seprei dan sarung bantal.

“Celaka! Mahfud pulang dengan lima ekor ikan cakalang,” gertak mulut batinku.

“Tidak mungkin,” kataku melepas pelukan bantal. Dasar jalang. Aku memukul ranjang dengan kesal. Merasa kurang, kupungut bantal yang mesra kupeluk tadi dan sekejap membantingnya seperti gaya petinju terkenal mematahkan leher lawan.

Ocehanku seperti air hujan yang tak kunjung usai. Ranjang seperti berkata, “Air mulutmu sudah membasahiku berulang kali saking nyamannya kau di sini. Tapi sekarang kau pecundangi kami layaknya benda paling berdosa di dunia.”

Belum puas saling menggertak, sebelum kakiku menendang keras pinggiran ranjang yang terbuat dari besi nyaris berkarat. Umpatan demi umpatan melayang keras. Seandainya bertelinga, ranjang itu sudah memampatkan kapuk bantal di lubang telinganya.

Kusudahi pertengkaran sebelah pihak ini dengan amarah yang masih menempel di ubun-ubun. Dengan kaki yang pincang, kuraih handuk yang tergantung di belakang pintu dan lekas memutar haluan ke perigi tua di samping rumah. Rintik hujan tak berhenti membasahi tanah. Genangan air masih setinggi telapak kaki, tapi sudah mampu membuatku menggigil.

Tak butuh gayung dan ember, timbaan sumur pun sudah lengkap, asalkan tidak ada kucing yang bunuh diri di dalam perigi itu dengan meninggalkan bangkai yang sedemikian menyengat.

Asik menggosok badan dengan sabun batangan, Mahfud lewat dengan memikul sebatang bambu yang di kedua sisiya tergantung dua ekor ikan cakalang dan seekor ikan bubara. Di kepalanya ada caping berwarna hijau. Khasnya, ia menyengir sambil menggoda. “Ikan-ikan! Arifin, beli ikan, ka?” teriaknya ketika mendekatiku. Tak perlu banyak cakap. Itu adalah ejekan bukan tawaran.

 Seperti mematikan indra-indra yang menempel di wajah, aku pura-pura menikmati gosokan gigi yang mungkin sudah tuntas bersih. “Sial! Sial!” umpatku dalam hati. Bisa-bisanya si Mahfud bisa melaut hujan-hujan begini. Mungkin karena gairah untuk menjadi orang kaya seperti para saudagar kaya pemilik kebun pala. Lantas melamar Asni yang diidam-idamkan. Ah, kalau begini aku tak akan pernah bisa menang. Jangankan menang secara finansial, sebatas wajah pun masih jauh.

 Mahfud merupakan seorang pemuda yang kental dengan wajah Cina-nya. Kulitnya bening seperti susu, matanya sipit, hidungnya tinggi lancip. Banyak orang-orang memanggilnya “Ko” yang berati kakak laki-laki dalam bahasa Cina. Seperti memperjualkan ketampanan atas nama ikan, jualanku di pasar tidak akan pernah habis sebelum ia membersihkan meja yang berlinang darah dan sisik-sisik ikan, kemudian pulang dengan uang di saku.

 Berbeda jauh. Orangtuaku yang berasal dari tanah Wandan asli, mengalirkan struktur genetika khas perawakan anak-anak suku Alifuru. Sebut saja dengan singkat. Berkulit hitam dan rambut keriting sudah mewakili sebagian besar maksudku.

Orang seperti kami mungkin disegani dengan kemampuan fisik yang mapan, tapi kecerdasan pikiran perlu dicari. Inilah alasan mengapa Mahfud lihai dalam segala hal. Di samping ia tumbuh di tengah kondisi masyarakat Wandan yang keras, orangtuanya pun membekali dengan rumus hidup yang manjur. Gila berdagang dan ilmu hitungan dia kuasai dengan apik. Ini berselisih jauh dengan pemikiran orang awam. Cukup sederhana. Tak perlu belajar, asalkan rajin mencari uang saja sudah dicap berguna bagi keluarga. Kerasnya hidup, ditambah kondisi ekonomi dengan harga pasar yang berbeda jauh dari harga produksi menuntun kami untuk menjadi tulang punggung keluarga sejak dini.

Selepas mandi. Matahari bersinar terang di tengah rintik-rintik hujan. Aku langsung mengambil dayung, pancing ulur, dan seekor ikan yang dijadikan umpan. Kemudian menuju pesisir pantai di belakang rumah.

Melewati rumah tetangga, seorang anak lelaki berambut landak berlarian di depan rumah sambil berenang di tengah becek air hujan. “Oe, Nyong! Ini hujan panas. Masuk cepat! Nanti pane punya kepala sakit,” teriak ibunya yang berdiri di ambang pintu dengan memegang cabang pohon jambu biji. Siap-siap pantat anak itu dicap merah. Jujur. Di antara deretan jenis cabang pohon yang biasa digunakan untuk mencambuk, cabang ini lebih dahsyat sakitnya.

Kepercayaan orang-orang setempat ketika turun hujan, tapi matahari bersinar terang merupakan suatu pertanda seseorang akan meninggal. Para orangtua was-was ketika anaknya keluar rumah karena takut sakit. Entah itu sakit kepala atau demam.

Ombak menghempas kole-kole yang kuletakkan di tepi pantai. Nyatanya air pasang kali ini benar-benar tinggi akibat hujan seharian. Kubuang air hujan yang terendam di dalam kole-kole dengan timba rua. Lantas meletakkan apa-apa yang tadi kubawa. Caping yang kemarin kugantung di pohon katapang sekarang entah di mana. Mungkin dibawa terbang angin atau dibawa lari orang.

Siap mencari uang makan, kole-kole yang bercat merah putih sudah kuseret menyentuh air laut. Perlahan kudayung sampai menuju selat yang memisahkan pulau Andan dengan gunung api. Arus cukup deras. Beberapa kapal laut berukuran sedang berlayar membawa penumpang ke pulau Andan Besar yang menggotong beberapa kantong plastik. Itu adalah para pemilik perkebunan pala yang menjual biji pala dan fuli ke pedagang Cina di pulau Andan. Nantinya, pala-pala itu akan diangkut oleh kapal menuju ke pulau-pulau besar di bagian barat negeri atau sampai ke luar negeri.

Sudah satu jam lebih terombang-ambing, tapi hanya lima ekor ikan momar yang kutarik ke atas kole-kole. Matahari sudah di atas kepala, tapi hujan belum kunjung berhenti. Dengan bayang-bayang tiga ekor ikan bonggol yang ditangkap Mahfud, nekat kuhiraukan kepalaku yang sudah menegang. Seperti mau pecah.

Jalur gunung api sudah kulalui sekali putaran. Masih lima ratus meter menuju pantai kasten – pantai yang kuparkirkan kole-kole tadi – tiba-tiba awan menjadi gelap. Hujan semakin deras. Jarak pandangku terbatas. Hanya terlihat sebuah kapal kayu kecil yang berada tak jauh di belakangku. Bukan masalah kole-koleku yang akan tenggelam atau terhempas oleh ombak, tapi yang benar saja. Kapal kayu itu bergerak semakin cepat ke arahku. Dayunganku juga terlalu lambat untuk membelok kemudi. Dua orang pria berdiri di ujung kapal dengan memberi isyarat untuk menghindar. Tapi, ini hanyalah tenaga manusia yang sudah keriput otaknya.

Hal yang menakutkan terjadi. Kapal kayu itu berjalan dengan arah zig-zag dan si pengemudi membanting setir cepat ke arah barat. Seperti sudah ada persiapan. Lima orang yang  berada di atas kapal melepas semua pakaian yang dikenakan. Menyisakan pakaian dalam. Ini supaya tubuh terasa ringan ketika berenang. Kapal perlahan tenggelam karena dorongan keras air hujan. Lima orang itu bergerak ke arah kole-koleku dan bergantungan. Seperti minta diselamatkan. Aku yang masih tidak menyangka, berbalik melihat kapal yang sebagian telah tertelan air laut. Kupalingkan kepala ke arah lima pria yang menatapku nanar dan bergantian ke arah kapal. Ada baju putih yang terapung. Tidak mungkin itu baju kelima orang ini karena ada gestur orang di dalam. Kutatap tajam.

 “Ada seeorang wanita di dalam kapal!” teriakku.

— TO BE CONTINUED —

  • Nyong: anak lelaki (semacam le dalam bahasa Jawa).
  • Pane: kamu.
  • Kole-kole: sampan kecil yang terbuat dari kayu.
  • Timba rua: alat untuk menimba air dari dalam kole-kole dan dibuang keluar.
  • Bonggol: besar.

Di atas merupakan sedikit kosa kata bahasa Banda Neira, Maluku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *