Opini

Ketika Semester Lima Full Senyum

Oleh: El Firdauso

Yaa.. semester ini terlalu banyak cerita, mungkin bagi kalian demikian. Bagaimana tidak, kita melewati puncak pandemi, vaksin massal, masuk sekolah, bencana alam, dll selama semester bersejarah ini.

Terlebih lagi mungkin cerita cerita pribadi kita yang tak kalah luar biasa. Aku juga merasakan hal luar biasa semester ini. Banyak sekali, sampai mungkin tulisan ini tidak bisa menggambarkan seutuhnya.

Semester ini aku kembali ke rumah ke dua dan tiada duanya, yakni pondok putra, sudah lama sekali aku menunggu momen ini. Pandemi memisahkan kami dan harus menunggu satu tahun lebih beberapa hari untuk bertemu lagi (cukup lebay).

Bertemu teman teman-temanku yang luar biasa dari berbagai daerah akhirnya tercapai, kegiatanpun yang awalnya kami semua cukup mager di rumah akhirnya bisa berjalan lagi di pondok. Kami kembali bermain dan belajar bersama, sore hari kami ke sekolah untuk main bola, setelah itu mengikuti kegiatan ngaji full sampai jam 9. Lalu esok hari seperti itu lagi. Lagi, lagi, dan lagi.

Seperti ada yang kurang, ya.. terkadang manusia memang tak pernah merasa puas hehe. Aku cukup merindukan sekolah yang masuk, aneh saja kami biasanya kegiatan mulai sore dan paginya pergi ke sekolah, harapan ku saat itu agar sekolah cepat masuk.

Ternyata saat pembukaan MPLS kami terpaksa online ditambah lagi, aku memulai semester lima dengan sakit saat itu. Aku merasa tidak enak badan. Ya… mungkin demam biasa, eh ternyata ini demam yang versi covidnya hehe.

Aku mencoba menahan itu selama tiga hari karena awalnya kukira demam biasa. Tapi malam demi malam badanku sangat letih, aku seperti mengeskip hari, tidur tidur tanpa henti. Tapi badan juga masih lemas. Singkat cerita aku dipisahkan dahulu dengan pondok selama satu bulan. Ahh sayang sekali…

Mau tidak mau aku belajar online dari rumah, dan memang sekolah tidak berani memasukkan siswa terlebih dahulu, karena kasus indonesia saat itu sampai puluhan ribu. Aku juga sedikit hilang harapan agar masuk sekolah. Pondok saja aku belum kembali lagi apalagi sekolah pikirku saat itu.

Ternyata ada hal ajaib datang. Kasus di Indonesia tiba tiba menurun drastis dibawah 10000. Akhirnya oh akhirnya, aku diizinkan untuk kembali ke kandang kesayangan. Seperti pemain sepak bola apabila ia main di kandangnya mereka akan berapi api dalam bertanding. Begitu juga aku saat itu, PTS dan masuk sekolah pun diumumkan aku semakin berapi api dalam belajar.

Sreeet. Aku mengikat sepatuku untuk masuk sekolah kali pertama lagi. Aku juga mendapatkan ruang kelas baik ujian maupun belajar yang sama persis dengan ruanganku dulu X Mipa 4. Semakin Alhamdulillah aku bersyukur kepadaNya.

Memang suasananya sedikit berbeda tapi yaa gimana ini sudah bagus puoll. Setelah kejadian dramatis itu aku mengalami banyak kejadian yang lebih dramatis lagi.

Di kelas 12 ini aku juga menutup banyak kegiatanku di SMA Khadijah yang luar biasa, misalkan extra jurnalis, film, olimpiade matematika, banjari, dan qiroah (jika masih dianggap extra). Jadi rasa haru (lebay dikit ya) saat aku menjalan extra itu untuk terakhir kalinya yang mana aku sudah mejalani mereka mulai kelas 10 sampai kelas 12. Jutaan kisah yang aku dapatkan dari extra kulikuler, jutaan tawa dan cerita layaknya bintang di angkasa hehe.

Ada kisah baru juga yang ku tulis dilembaran memori di kelas 12 ini, aku pertama kali untuk menjadi khotib (tausiah jumatan) di masjid khadijah. Sebenarnya aku merasa belum waktunya, oleh karena itu ini termasuk dramatis bukan hehe. Aku merasakan atmosfer tidak biasa di atas mimbar, karena memang khutbah beda dengan ceramah, kita tidak bisa berbicara dengan pendengar.

Yah itu kisah kisah di semester ini yang non akademik ya haha, kalau yang akademik juga tak kalah menarik. Kami kelas 12 diakhir semester dihadang badai ujian, mulai dari ulangan harian masing masing pelajaran, ujian praktik yang konon terkenal horor sampai penilaian akhir semester, kami para kelas 12 juga memperjuangkan puncak perjuangan untuk jalur undangan, karena ini dihitung sampai semster ini saja.

Banyak cerita dan ribuan kata-kata mengeluh terdengar dan terucap. Tapi Alhamdulillah kami kelas 12 sudah melakukan yang “terbaik”. Kami angkatan verenigen masuk bersama maka kami juga harus bisa keluar bersama di terbaik yang kami inginkan. Aaamiiin.

Doanya moga kita bisa mencapai puncak sekolah ini selama 12 tahun dengan kebahagiaan yang epik. Alfatihah.

Surabaya, 24 Desember 2021~ Mengomeli pertandingan Indonesia kemarin

*Penulis merupakan alumnus ekskul Qiroah yang juga Kopites (Fans Liverpool).

Sumber gambar: pixabay.com

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *