Menghidupkan Kembali Semangat Mencari Barokah Kiai dan Guru pada Santri

Source: Google

Hari santri 22 Oktober 2020 mengingatkan penulis bahwa 20 tahun silam mempertanggungjawabkan penelitian di depan lima dosen penguji mengenai Hubungan antara Persepsi Santri terhadap Barokah Kiai dengan Motivasi Belajar Santri. Hari Santri membuat penulis terinspirasi membaca kembali tulisan tersebut dan terhubung dengan fenomena naik turunnya motivasi belajar santri di masa pembelajaran jarak jauh saat ini. Masa pembelajaran yang membuat santri mau tidak mau harus jauh dari figur yang biasanya membangkitkan semangat belajarnya ialah kiai dan guru. Khususnya pada Pondok Pesantren yang tidak memungkinkan belajar tatap muka. Dan apa yang kita baca sebagai santri ialah sama halnya dengan siswa karena pada dasarnya sama-sama sedang menuntut ilmu kepada kiai dan guru. Sedangkan apa yang kita baca sebagai kiai adalah juga seorang guru meskipun tidak semua orang yang berprofesi sebagai guru adalah seorang yang berhak disebut kiai. Maka apa yang terjadi di Pondok Pesantren sebagai imbas PJJ semakin terasa dampaknya di lembaga sekolah yang bukan Pondok Pesantren karena pemahaman tentang mencari berkah lebih kental di Pondok Pesantren dibanding lembaga sekolah non Pondok Pesantren.

Pembelajaran jarak jauh membutuhkan usaha ekstra untuk membangkitkan motivasi belajar siswa ialah dorongan untuk melakukan tindakan belajar yang dipengaruhi keadaan siswa dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Motivasi belajar ditunjukkan oleh aspek-aspek berikut ialah (1) kemauan dan kesiapan untuk mengikuti pelajaran, (2) memperhatikan pelajaran selama di ruangan, (3) berusaha menyelesaikan tugas dari guru dengan sebaik-baiknya, (4) respon yang positif dalam menyelesaikan persoalan pelajaran dengan jalan memecahkan sendiri, berdiskusi, atau menanyakan pada yang lebih memahami, (5) berusaha terus menerus sehingga tercapai tujuannya, (6) keyakinan akan berhasil. Semakin terpenuhinya 6 aspek tersebut, maka menunjukkan motivasi belajar siswa tinggi. Demikian pula sebaliknya. 

Namun bagaimanakah ketika siswa mengalami beberapa hambatan dalam memperhatikan pelajaran selama di ruangan sebagaimana aspek nomer 2. Siswa terkendala jaringan ataupun perangkat di rumah, gaya belajar siswa yang belum bisa terpenuhi dengan metode daring maupun luring, kejenuhan karena harus seorang diri menyelesaikan dan tidak terpenuhi keinginan untuk berdiskusi langsung, serta kesulitan yang membuat siswa tidak yakin dirinya bisa berhasil. Maka para pendidik mendapat tantangan untuk membangkitkan motivasi mereka di saat para orangtua banyak mengeluhkan beratnya menerima alih tugas sebagai pengganti guru di sekolah. Salah satu celah yang bisa ditembus untuk membangkitkan motivasi ialah proses kognisi siswa. Sebagaimana berikanlah nutrisi dan vitamin pada jasmani saat butuh energi, demikian pula saat pikiran siswa lelah dan jenuh maka segarkan dengan kata-kata yang memberikan janji dan harapan menyenangkan. Sebagaimana semakin pesatnya entertainment di tengah media karena semakin butuhnya hiburan di saat lelah. Tapi penyemangat untuk para santri atau siswa bukanlah sekedar hiburan dongeng, karena mereka para pembelajar yang sedang aktif proses kognisinya. Berikanlah mereka harapan yang memiliki dasar rasional sehingga mampu memberikan dorongan belajar karena yakin akan berhasil.

Salah satu motivasi yang kuat untuk kembali disegarkan atau jika sempat mati maka penting untuk dihidupkan kembali ialah semangat untuk mencari barokah kiai dan guru. Memberikan pemahaman dan menimbulkan pemaknaan yang kuat mengenai barokah kiai dan guru pada persepsi santri atau siswa harus diperkuat dengan memberikan harapan dan keyakinan bahwa figur gurunya memang layak untuk dicari berkahnya sebagaimana yang ada pada kualitas seorang yang disebut kiai. Jika hal ini menjadi kuat dalam persepsi santri atau siswa maka menimbulkan rasa senang untuk mematuhi guru dan menjadi motivasi dalam menerima pelajaran dari guru.

Apakah pengertian barokah kiai dan sosok guru seperti apakah yang layak untuk menjadi penghantar keberkahan dari Allah SWT. Barokah secara umum diartikan sebagai suatu keagungan dalam kaitannya dengan karunia atau kekuatan spiritual yang dianugerahkan oleh Allah SWT antara lain kepada para kiai. Arti lain dari barokah kiai ialah ziyadatul khoir yaitu kebaikan yang bertambah-tambah. Kiai diyakini sebagai sosok yang dapat menjadi penyalur banyak kebaikan dari Allah SWT berupa barokah. Kepercayaan ini berlaku selama kiai tersebut adalah orang yang memiliki kualitas akhlak yang mulia, ketinggian ilmu yang dimiliki, serta menjadi seorang yang karismatik ialah memiliki kemampuan untuk membuat orang lain menaatinya bahkan di sebagian masyarakat ada yang sampai taat membabi buta kepada kiai. Maka para guru perlu meneladani dan berupaya menjadi figur berkualitas sebagaimana kiai agar bisa memberikan keyakinan pada santri atau siswa bahwa dirinya layak menjadi figur penghantar keberkahan dari Allah SWT.

Ketika santri atau siswa diberikan kembali pemaknaan mengenai barokah kiai atau guru, kemudian santri atau siswa mengamati bahwa gurunya memang seorang yang layak untuk mendapatkan karunia penyalur keberkahan dari Allah SWT, maka menjadi motivasi ekstrinsik yang menginternalisasi dalam diri santri atau siswa untuk belajar menuntut ilmu agar mendapatkan keredhaan dari gurunya sehingga memperoleh kesuksesan hidup yang barokah. Santri atau siswa tetap bersemangat belajar meskipun dalam pembelajaran jarak jauh dengan sekian kendala, karena adanya harapan memperoleh barokah dari kiai dan gurunya. Santri atau siswa yakin akan berhasil mengatasi segala kesulitan belajar karena yakin adanya kekuatan barokah mendatangkan kemurahan dari Allah SWT untuk tercapainya tujuan belajar ialah terwujudnya cita-cita mereka. 

Dan sebagai penutup, penulis mengutip tulisan Syekh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’lim Muta’allim bahwa santri harus mencari kerelaan hati guru agar ilmunya berfaedah dan diberkahi.  Demikian pula pernyataan KH Abdurrahman Wahid yang dikutip oleh M. Dawam Rahardjo bahwa santri dalam menuntut ilmu harus berusaha memperoleh kerelaan kiai dengan mengikuti segenap kehendaknya dan melayani segenap kepentingannya, sehingga ia memperolah barokah kiai. Semoga persepsi santri atau siswa terhadap barokah kiai dan guru menjadi motivasi belajar yang kuat di kondisi apapun. Selamat Hari Santri.

Mengenang kembali masa singkat menjadi santri di PP Darussalam Watucongol Muntilan, PP Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, PP Assalafiyah Mlangi Sleman, PP Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, dan PP Roudhotul Jannah Kalasan Yogyakarta.

Luluk Zakiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *