#GuruKeren Guru

Mukhammad Zulfa: Orang Tua Bisa Menjadi Guru

Mukhammad Zulfa, biasa dipanggil pak Zulfa oleh siswa-siswi SMA Khadijah yang berasal dari Waru, Sidoarjo.

Perjalanannya menjadi seorang guru rupanya melewati lika-liky. Beliau menjalani profesinya sebagai guru sejak tahun 1996 di SD dan SMA Khadijah. Pada tahun 2000, beliau berhenti mengajar di Khadijah karena melanjutkan usaha orang tua. Namun, beliau tetap mengajar sebagai kepala TPQ dan menjadi pengasuh di Pesantren At Tauhid Waru, Sidoarjo dan kembali mengajar di khadijah sejak tahun 2015 sampai sekarang. Bagi siswa kelas 11 atau kelas 12 pasti tidak asing lagi dengan sosok yang satu ini. 

Menceritakan tentang hal yang mendasari beliau menjadi seorang guru hingga saat ini merupakan keinginannya sejak keluar dari pesantren. Beliau menjadi guru mengaji, karena teringat pesan dari Kyai beliau yaitu K.H.M Bashori Alwi : “Segala sesuatu ada zakatnya dan zakatnya ilmu adalah mengajar” dan Kyai tersebut sangat senang bila mendengar santrinya menjadi guru terlebih lagi guru Al Qur’an.


Cerita yang paling berkesan, ketika pak Zulfa menjenguk Kyai Bashori di RSI Surabaya, beliau (kyai) bertanya
Apa kesibukannya?”
Pak Zulfa menjawab “Dagang Kyai”,
Beliau berkata “Itu kan Syughul (kerjanya)
Akhirnya Pak Zulfa pun menjawab “Mulang ngaji Kyai
Dan beliau tersenyum bahagia.

Menjadi seorang guru tentunya mengalami suka dan duka, Pak Zulfa juga bercerita tentang pengalaman suka dan duka Beliau yang paling berkesan selama menjadi guru hingga saat ini.

Kalau pengalaman suka, saya pernah menjadi sie acara MTC , dan suatu hari ketika selesai persiapan acara saya akan pulang, tiba-tiba saya dihampiri siswa yang menjadi ketua panitia dengan berlari tergopoh-gopoh mengejar saya di parkiran dan dia berkata “Pak Zulfa terima kasih”. Ucapan terima kasih itu saya ingat selalu. Dan membuat saya bersyukur mempunyai siswa yang pandai berterima kasih”. Jawabnya

Pengalaman duka nya ketika beliau masih melihat siswa alumni Khadijah yang tidak melanjutkan kuliah atau berhenti belajar. Namun, sampai saat ini membuatnya kepikiran adalah lulusan SMA Khadijah tidak bisa baca Al Qur’an bahkan tidak bisa doa qunut.

Saat ditanya redaksi tentang cara menghadapi watak dan kepribadian siswa yang berbeda beda, Beliau menganggap setiap siswa kelak mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi orang sukses. Anak rajin dan tidak hanya masalah waktu. Walaupun bermacam-macam watak dan kepribadian beliau menganggap

“Anak salah wajar, anak salah guru diam saja tidak wajar” dan beliau berkeyakinan dengan sikap sabar dan perhatian pasti suatu saat siswa akan mengingat pesan yang beliau sampaikan.

Beliau bercerita juga bahwa alasan sampai sekarang masih menjadi guru adalah karena beliau tidak mempunya alasan, tapi beliau merasa senang saja bila beliau dapat menjadi guru. Jika kata anak muda sekarang “Cinta tidak butuh alasan”

Pendidikan memang hal yang penting terlebih dengan menjadi guru beliau akan selalu belajar dan belajar. Dan alhamdulillah Pak Zulfa baru menyelesaikan kuliah S2 nya.

Melewati banyak proses, dahulu sebelum mengajar beliau pernah menjadi pengusaha kayu kalimantan, pernah menjadi Manajer Keuangan di salah satu perusahaan profil beton, bahkan beliau pernah menjadi sales minuman yakult. Tetapi beliau  tetap mengajar di TPQ dan Pesantren kalau di malam hari.

Tak hanya itu, beliau juga untuk memotivasi generasi selanjutnya dalam mengeluti profesi guru di zaman milenial seperti sekarang, bahwa profesi guru tidak hanya diemban oleh guru di sekolah saja, namun orang tua juga bisa menjadi guru bagi anak-anaknya.

“Sangat sedikit siswa yang bercita-cita menjadi guru, tetapi dengan belajar menuntut ilmu setinggi-tingginya, walaupun tidak menjadi guru di sekolah, kelak kita pasti menjadi guru buat anak-anak kita, karena mendidik anak bukan kewajiban guru tapi tanggung jawab orang tua”. jelasnya

Sangat diharapkan banyak siswa khadijah yang menjadi guru, dan hal itu akan sangat membanggakan almamater khadijah, apalagi Alumni SMA Khadijah menjadi guru di SMA Khadijah. amin

“Pesan saya selama menjadi siswa (santri) jangan sekali-kali di hati kita mempunyai rasa benci atau sakit hati kepada guru bahkan sampai menghina guru, karena itu akan berpengaruh kepada keberkahan ilmu”.

Menurut beliau ada hal terpenting setiap selesai beribadah dan belajar adalah mendoakan orang tua dan guru karena hal itu akan menyambung rasa di hati. Serta tak lupa membaca fatihah sebelum belajar di hadiahkan kepada guru mata pelajaran yang akan di pelajari” begitu katanya.

Pengulas: Nayla Izzati (redaksi)

Editor: Alisyia Bilbina (redaksi)

291 total views, 3 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *