Opini

Pembajakan Buku: Pembunuhan Pada Industri Kreatif yang Semakin Marak Terjadi

Oleh: Najma Anindya Ghaisani

Turcham.com – Pembajakan buku sudah menjadi hal yang biasa di kalangan masyarakat. Entah sadar atau tidak, kegiatan pembajakan ini sama saja dengan melakukan ‘pembunuhan’ pada industri kreatif secara perlahan.

Berpikir bahwa, “Yang penting membeli bukunya, toh sudah termasuk mendukung penulisnya!”

Mendukung mah iya mendukung, tapi kalo beli bukunya bajakan ya engga sama sekali.

Padahal, di halaman depan buku selalu ditulis Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang hak cipta. Apa selalu diabaikan, ya?

Pembajakan terus terjadi karena kurangnya edukasi atau informasi yang memadai kepada masyarakat. Atau mungkin, karena buku dianggap “jendela dunia” maka harus disebarkan, meskipun dengan cara yang ilegal.

Sampai-sampai pemilik karyanya angkat bicara melalui media sosial, mereka merasa dirugikan dengan adanya pembajakan buku. Meminta kepada pembacanya agar membeli buku yang original saja, jangan sampai membeli buku yang bajakan. Jika belum ada uangnya, maka menabung. Atau, bisa mampir ke perpustakaan terdekat untuk meminjam bukunya.

“Ah, males banget ke perpustakaan!”

Bisa lewat perpustakan online. Tuh, pake aplikasi iPusnas. Sebenarnya, banyak pilihan agar kita tidak membeli buku bajakan. Ya, dengan cara yang tadi, menabung atau meminjam buku. Jangan mengutamakan rasa egoisnya sendiri, namun sesekali menempatkan diri jika kamu menjadi seorang penulis juga. Bagaimana rasanya melihat ratusan lembar bukunya yang dibajak?

Bekerja keras hingga menemukan beberapa ide mahal yang susah didapatkan, namun penulis tidak mendapatkan penghasilan dari jerih payah penjualan karyanya, malahan orang lain yang dapat. Penulis juga manusia, mereka juga harus mendapatkan bayaran dari karya yang dihasilkan.

Dampak pembajakan ini tidak hanya kepada para penulis, tapi juga kepada penerbit. Karena mereka juga memerlukan biaya untuk menerbitkan sebuah buku.

Membeli buku bajakan itu tidak keren sama sekali, beneran. Bilangnya sih mendukung, tapi sebenarnya bohong. Bilangnya sih menghormati proses pembuatannya, padahal engga.

“Aku engga tau yang ori sama yang kw!”

Yaa cari di google dong say, perbedaannya apa dan gimana. Jangan pura-pura engga tahu. Jangan jadikan ketidaktahuan menjadi alasan untuk membeli buku bajakan. Sekian, salam sehat!

*Penulis merupakan pelajar SMA Khadijah kelas XI MIPA 2 yang bergiat di ekskul jurnalistik

Source pict: Kompas.com

210 total views, 6 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *