Buku

Tentang Kamu: Pelajaran Hidup Untuk Selalu Tegar

Judul Buku: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Tebal Halaman: 503
Penerbit: Sabak Grip Nusantara
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Oktober 2016

Tentang Kamu, adalah sebuah novel yang menceritakan perjuangan Zaman Zulkarnaen sebagai pengacara muda yang bekerja di Firma Hukum London, Thompson & Co. Ia diberi mandat untuk mengurus warisan dan mencari ahli waris dari seorang Sri Ningsih—wanita asal Indonesia yang meninggal di panti jompo, Paris. Yang menjadi masalahnya, Sri Ningsih meninggalkan harta warisan senilai satu miliar pound sterling, dalam mata uang Indonesia berarti senilai 19 trilun rupiah.

Pencarian pertama, Zaman pergi ke sebuah panti jompo yang dulunya pernah Sri Ningsih singgahi, Zaman bertemu dengan Aimée—salah satu pengurus di panti jompo tersebut. Setelah bercakap hingga bercerita mengenai Sri Ningsih selama beberapa jam, Aimée memberikan sebuah buku catatan kecil yang nanti bisa membantu Zaman Zulkarnaen untuk menelusuri kehidupan Sri Ningsih yang memiliki kekayaan melebihi Ratu Inggris dan keluarganya. Secepatnya, ia menuju ke Jakarta dengan menggunakan pesawat pribadi milik Firma Hukum London, Thompson & Co.

Petunjuk pertama, “Rumah-rumah yang ditumbuh dari atas permukaan laut.” —Awalnya, Zaman tidak mengerti apa maksud dari salah satu kalimat yang dituliskan oleh Sri di buku catatannya, lalu seorang pilot dari pesawat pribadinya mengatakan kalau itu adalah salah satu ciri-ciri dari Pulau Bungin, Sumbawa. Lantas, tanpa basa-basi ia mengatakan kepada pilotnya untuk langsung menuju ke Pulau Bungin,

Di Pulau Bungin, Zaman bertemu dengan Ode—teman masa kecil Sri Ningsih. Ode menceritakan masa kecil dari seorang Sri Ningsih kepada Zaman, dari pertama kali orang tua Sri bertemu, Meninggalnya Rahayu saat melahirkan Sri, Nugroho (bapaknya Sri) menikah lagi dengan Nusimarata, hingga kekerasan yang Sri alami oleh ibu tirinya sesudah bapaknya hilang saat melaut.

Selama lima tahun hingga Sri berumur 14, ia diperlakukan buruk oleh ibu tirinya, hingga sebuah kejadian besar terjadi. Kalau kata Ode, itu adalah `kejadian yang membuktikan bahwa kesabaran bisa mengalahkan apapun. Bagaimana tidak? Selama beberapa tahun Sri menerima kekerasan, disakiti fisiknya, disakiti hatinya. Tapi Sri tidak pernah berpikiran untuk memberontak kepada ibu tirinya, ia malah menerima semua itu dengan sabar dan ikhlas.

Nusimarata meninggal dunia akibat hangus terbakar di rumahnya sendiri. Seminggu kemudian, Sri dan Tilamuta (adik tiri Sri berumur 5 tahun) meninggalkan Pulau Bungin, mereka ditawari untuk belajar di Madrasah milik kerabat Tuan Guru Bajang di Jawa (Tuan Guru Bajang adalah gurunya Sri).

Selesai sudah, menelusuri masa kecil Sri Ningsih di Pulau Bungin, Zaman Zulkarnaen pun terbang menuju tujuan berikutnya, Surakarta, Jawa Tengah. Zaman pun bertemu dengan Nura’ini (anak dari Kyai Ma’sum, pemilik madrasah), teman sekolahnya Sri Ningsih. Nur’aini menceritakan semua kebaikan Sri. Hingga kejadian yang mengenaskan terjadi akibat dengki alias iri hati.

Bermula di hati Musoh (suami dari Sulastri, teman dari Sri dan Nur’aini). Musoh iri dengan Arifin (suami dari Nur’aini). Apa pasalnya? Sedeharna, Musoh dijadikan orang ‘kedua’ di Madrasah. Yang awalnya Kyai Ma’sum apa-apa mengandalkan Musoh, sekarang tergantikan dengan Arifin (menantu dari Kyai Ma’sum).

Akhir September tahun 1965, Sri Ningsih menyadari bahwa gejolak politik sedang panas-panasnya di Jawa, saat kelompok yang menamakan dirinya Partai Komunis Indonesia (PKI) berusaha habis-habisan menyusun rencana mengambil alih kekuasan sah. Itu Bukan pengkhiatan pertama kelompok ini atas negara Indonesia, setelah mereka juga menusuk dari belakang pada tahun 1948.

Kelompok itu pun berusaha membunuh semua warga madrasah tempat Sri belajar, tetapi Sri Ningsih selamat. Karena sebelum itu, Sulastri meminta Sri untuk datang ke rumahnya. Pada akhir yang mengenaskan, adik Sri, Tilamuta, ditemukan meninggal dunia dengan mengenaskan.

Tak ingin mengingat-ingat kejadian itu, lantas Sri pergi ke Jakarta pada tahun 1967-1979. Zaman Zulkarnaen secepatnya terbang menuju Jakarta, tempat dimana Sri memiliki periode paling lama untuk menetap. Ternyata Sri mempunyai pabrik sabun bermerek ‘Rahayu’ yang kini diurus oleh Cathrine. Melalui buku Sri dan cerita Cathrine, Zaman Zulkarnaen terbang kembali ke London. Yang menjadi sebuah pertanyaan di benak Zaman adalah “Kenapa Sri pergi begitu saja dan menjual pabrik sabunnya yang ia bangun dari nol? Ada apa?”

Di London, Zaman bertemu dengan seorang supir bus. Lucy adalah teman Sri Ningsih selama ia bekerja sebagai sopir bus tingkat rute 16 di London. Lucy menceritakan semua kebaikan Sri dan keteladan seorang Sri Ningsih. Zaman masih bingung, dimanakah tempat Sri tinggal di London? Apakah di sebuah Apartemen? Namun dimana?

Sampai kepada temannya Zaman, Rajendra Khan. Ternyata Sri Ningsih pernah tinggal di apartemen milik keluarga Rajendra Khan. Ibunya Rajendra yang menceritakan tentang Sri, dari bagaimana Sri hidup di London, menemukan seseorang yang mencintainya di umur 36 tahun, hingga Hakan Karim (suami Sri Ningsih) meninggal.

Lagi-lagi, Sri Ningsih menghilang begitu saja. Keluarga Rajendra juga tidak tahu alasannya. Setelah dari London, Zaman pun kembali ke panti Jompo di Paris. Karena Panti jompo tersebut tempat terakhir Sri tinggali. Zaman pun berbicara dengan Aimée, hingga ia menemukan sebuah foto Sri yang sedang belajar tentang hukum, lantas ia membaca kembali surat-surat Sri yang Nur’aini berikan. Ia tertegun ketika tanggal terakhir keduanya saling menukar surat.

Hari itu adalah hari penulisan surat wasiat. Dengan cepat ia menghubungi Nur’aini untuk menanyakan surat itu. Nur’aini tak tau pasti mengenai surat itu. Namun, ia memberi tahu Zaman bahwa ada laci tersembuyi di kotak kayu tempat Nur’aini menyimpat surat-surat dari Sri Ningsih. Akhirnya, Zaman Zulkarnaen pun menemukan surat wasiat itu. Dan Jawaban mengapa Sri selalu mengilang begitu saja adalah karena teror-teroran dari Sulastri. Di epilog, ternyata Tilamuta masih hidup.

Tentang Kamu, sebagian orang pasti mengira buku ini adalah sebuah buku dengan cerita yang romantis, didukung juga dengan beberapa kalimat yang ada di belakang sampul buku. Namun, nyatanya tidak.

Menceritakan tentang keteguhan hati seorang Sri Ningsih, membuat pembaca ingin memiliki hati seteguh Sri. Bagaimana cara Sri memeluk semua rasa sakitnya? Itu yang akan pembaca tanyakan setiap membaca bab selanjutnya dari buku ini. Novel ini sangat memberikan banyak pelajaran agar tidak mudah menyerah dan harus berjuang selama masih hidup, dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, buku ini wajib kalian baca!

Pengulas: Najma Anindya Ghaisani (redaksi)

289 total views, 3 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *