Tentang Kita yang Belum Usai

Oleh: M. Shodiqin*

Beberapa hari selama ujian yang namanya aneh menurut saya, EHB-BKS, saya seperti mendapat suntikan “semangat” yang lebih besar. Bangun pagi rasanya enteng benar. Perjalanan ke sekolah juga seperti layaknya tamasya. Menyenangkan.

Apa pasalnya? Yap, kamu. Kamu.

Selama berpuluh purnama, kita hanya bisa bersua lewat layar zoom. Itupun bukan gambar wajah. Tetapi deretan huruf. Aisyah Putri. Sandi Saroyo. Fatih Parama. Putri Ayu. Islah Farah. Dan seterusnya.

Juga duo maut yang selalu berganti-ganti menjadi yang pertama di doa pagi. Sarah Salsabila. Siti Suciati.

Yang ketika dipanggil namanya tanpa kabar. Entah tidak mendengarkan atau pura-pura tidak mendengarkan. Yang jika terlambat doa pagi selalu mengabari saya. Atau sebaliknya. Loss dol. Ini duniaku, apa pedulimu. Wuah, horor juga.

Berdiri di depanmu sangat menggembirakan. Walau segelintir yang hadir. Tetap memberikan suntikan semangat buat saya.

Meskipun kadang dalam kepala saya menginginkan pemandangan berbeda. Ketika saya masuk, semuanya sudah di kelas. Siap berlaga.

Karena selama via zoom, kondisinya juga hampir sama. Ketika saya masuk ruangan, keajaiban untuk lengkap alias fulltim.

Tetapi lupakan. Saya terlalu semangat dan gembira bisa menjumpaimu.

Saya selalu mendoakan semuanya, yang tepat waktu ataupun tidak, untuk menjadi remaja hebat. Yang mampu berkarya sesuai bidangnya. Membahagiakan orang tua. Rajin menabung. Pandai mengaji.

Walau seminggu, kebersamaan kilat itu sangat berkesan bagi saya. Yap sangat kilat. Saya masuk ruangan. Obral kartu. Doa pagi. Ceramah singkat. Lalu buyar. Wahh..

Tentu saja hari-hari saya ke depan akan sangat berbeda. Saya tak bisa lagi dengan rutin menyapa kalian. Karena secara teknis, kamu-kamu telah menuntaskan semua kegiatan pembelajaran. Meskipun baru 3 Mei, pengumuman kelulusan akan menyapa kalian.

Tentu, waktu yang tersisa bukan untuk berleha-leha. Kalian harus bekerja mati-matian untuk UTBK. Bersaing dengan seluruh siswa dari penjuru negeri. Sebuah ikhtiar dari pilihan yang kalian tentukan.

Jikapun akhirnya jalan hidupmu sudah dipilihkan untuk tidak di kampus negeri, setidaknya kamu belajar nilai hidup yang penting.

Bahwa tak semua dalam hidup ini, walau diperjuangkan sekuat tenaga akan menghasilkan sesuai keinginanmu. Jalan terkakhir, tawakkal. Jalani dengan gembira.

Buatmu, anak-anak keren IPA satu (lebih keren lagi yang sudah mengumpulkan novel, wkwk), selamat untuk kalian. Yang telah sampai pada titik ini. Dengan beragam cerita yang saya tahu tidak mudah. Tinggal selangkah lagi. Mari buat cerita yang positif. Yang kelak bisa kita bagi untuk anak dan cucu kita.

Tos!!!

29/3/2021
Sambil mengupas bawang

*Penulis merupakan wali kelas XII IPA 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *