Film

“Tilik” Sebuah Refleksi Masyarakat Kita Saat Ini

Hai! pembaca setia turcham.com. Kali ini saya akan meresensi salah satu film pendek garapan Ravacana films yang pastinya nggak kalah keren dari film-film pendek lain yang ada di Indonesia. Yap, saya akan meresensi film tilik.

Film tilik ini disutradarai oleh pria kelahiran Jakarta yaitu Wahyu Agung Prasetyo. Ia memulai karirnya sebagai sutradara pada tahun 2011, pada tahun 2015 ia bersama teman-temannya menginisiasi sebuah rumah produksi , dikenal dengan nama Ravacana Films. Mulai dari situ, Wahyu mulai fokus dalam bidang penyutradaraan. Beberapa karya film pendeknya mendapat apresiasi dari berbagai festival. Adapun beberapa Festival tersebut bertaraf nasional dan internasional.

Yuk, sekarang kita mulai mengulas isi dari film Tilik. Nah, buat para pembaca jangan lupa siapin kuota internet atau wifi ya, barangkali film Tilik ini dapat mengisi waktu luangmu.

Source : Google

Ini dia posternya, bagus banget kan. Dari posternya aja kita sudah bisa melihat betapa serunya adegan komedi yang ada di film ini. Film ini juga mendapat antusiasme penonton dengan views yang cukup fantastis dalam waktu  4 hari yaitu 5 juta views. nggak perlu basa-basi lagi, yuk kita mulai! SPOILER ALERT!!!!!

Judul : TILIK
Genre : Komedi
Tipe : Short movie 
Durasi : 32 menit 34 detik
pemain : Siti Fauziah, Briliana Desy, Angeline Rizky, Dyah mulani, Lully Syahkisrani, Hardiansyah yoga, Tri sudarsono, Gotrek, Ratna Indriastuti, Stephanus wahyu gumilar.
Rating : 13+ (13 tahun keatas)
Status : Sedang tayang
Rilis : 17 agustus 2020
Sutradara : Wahyu Agung Prasetyo
Rumah produksi : Ravacana Films.

Trailer source : https://www.youtube.com/watch?v=LjfzUSZb9Hw

Film source : https://www.youtube.com/watch?v=GAyvgz8_zV8

Oke setelah membaca tentang informasi film diatas, mari kita beralih ke bagian sinopsis.

Sinopsis

Film pendek berdurasi 32 menit 34 detik ini menceritakan tentang sekumpulan ibu – ibu desa yang ingin menjenguk bu lurah yang sedang sakit, ibu yang bernama Bu Tejo (Siti Fauziah) menyebarkan cerita tentang perempuan bernama Dian (Lully syahkisrani), yang menjadi perbincangan dimana-mana, baik di media sosial maupun di dunia nyata. Bu Tejo yang terus-terusan membicarakan Dian membuat Yu Ning (Briliana desy) merasa risih dan akhirnya membela Dian, semua ibu-ibu yang ada di truk itu pun mengamini perkataan Bu tejo, karena sumber berita tersebut dari internet. Menurut mereka, berita dari internet pasti benar. Setelah sampai di rumah sakit, ternyata mereka tidak bisa menjenguk bu lurah karena bu lurah di rawat di dalam ICU, mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke pasa gedhe (Beringharjo). Dan saat itu juga, Bu Tejo mempersekusi Yu Ning sebagai inisiator tilik yang dianggap menyebarkan berita setengah-setengah, Dian memasuki mobil sedan yang didalamnya telah duduk seorang lelaki paruh baya yang dipanggilnya “mas”. Kepada lelaki itu, Dian mengungkapkan kegalauannya, kekhawatirannya, dan pertanyaannya bila mana ayah fikri menikah dengannya.

Resensi film :

Film pendek yang dipersembahkan oleh dinas kebudayaan daerah istimewa Yogyakarta ini menurut saya, memiliki pembangunanan karakter yang cukup bagus, karena berhasil membuat para penonton kesal dengan omongan Bu Tejo & berempati dengan Yu Ning di scene terakhir film. Film ini juga menyenangkan dari awal hingga akhir, pergunjingan ibu – ibu diatas truk ini sukses membuat penonton tertawa. Bahasa yang digunakan dalam film ini adalah bahasa daerah, tapi untungnya produser dari film ini menambahkan subtitle agar bisa dinikmati oleh semua orang. Menurut saya, kenapa film ini menggunakan bahasa jawa adalah, karena ingin memperkenalkan dan menaikkan budaya jawa ke dunia perfilman. Selain itu, film ini mengandung pesan yang bisa kita ambil yaitu, jangan mudah percaya dengan berita yang ada di internet. Kekuarangan film ini ada di scene terakhir, scene setelah Dian masuk ke dalam mobil, scene tersebut menurut saya cukup sulit untuk dipahami.

Baiklah, di ujung artikel yang pendek ini saya dapat menangkap pesan moral yang ingin disampaikan oleh film ini. Yaitu, jangan mudah percaya dengan berita yang tersebar di internet. Karena tidak semua berita yang tersebar di internet adalah berita benar. (Ayesha fazilatunnisa)

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *