Buku

Untukmu: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Pengulas: Azzahratul Balqis

Cerpen sekaligus buku ‘Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?’ adalah hasil karya seorang Hamsad Rangkuti, “Pengelamun yang Parah”—sebutnya—kelahiran tahun 1943 yang berasal dari Sumatera Utara, suatu daerah yang kebetulan katanya memiliki lagu ‘Tapanuli Modern’. Beliau mengaku memiliki imajinasi yang sangat liar, seperti yang telah disebutkannya pada buku yang sudah saya sebutkan sebelumnya. 

Di dalamnya, diceritakan bagaimana beliau awalnya membuat hanya 7 buah cerpen dalam kurun waktu 19 tahun. Dengan sepeda onthel kesayangannya, Hamsad berkeliling-keliling kota, menyaksikan dan memperhatikan apapun yang terjadi pada sekitarnya. Dari hal-hal sepele seperti cekcok antara kenek dan dirinya karena kesalahpahaman pembayaran ongkos busnya, hingga saat dirinya tengah di ambang antara hidup dan mati, beliau dapat melahirkan cerita-cerita pendek yang lalu beliau kirim pada beberapa surat kabar dan majalah-majalah ternama.

Dalam buku ‘Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?’ ini, ada 16 judul cerpen yang Hamsad tulis pada tahun 1980-2000an, entah mengapa tak menyantumkan cerpen pertamanya dari tahun 1956 ketika dirinya berusia 16 tahun. Ketika membuka halaman 191, saya sampai pada cerpen yang judulnya dipakai pada buku ini. Dari judulnya saja saya belum dapat memperkirakan apa maksud dari cerita ini.

Sungguh absurd bila dibaca awalnya saja, tentang seorang wanita yang menelanjangi dirinya sendiri sebelum hendak melompat dari kapal, tak ingin meninggalkan bekas apapun dari kekasihnya sebelumnya. Tetapi, si tokoh Aku mencegahnya dengan bersedia untuk menghapus bekas tersebut, yaitu yang ada di bibirnya. Sebelum kemudian mereka menghabiskan waktu dan membuat kenangan bersama.

Yang tak saya sangka adalah bagaimana Hamsad memutar ending cerita ini dengan fakta bahwa tokoh Aku adalah seorang ‘kakek-kakek’ yang menjalin hubungan dengan seorang wanita muda di umur 20-an nya. Jika saya boleh jujur, saya agak geli dengan informasi pada cerita ini, meskipun saya sangat suka dengan twist-nya. Dan tentu saja tulisan seorang Hamsad yang begitu cantik, mendorong saya untuk terus membacanya hingga akhir. 

Kisah itu meninggalkan ‘bekas’ pada diri saya yang entah bagaimana saya akan menghapusnya, bahkan dengan sebuah ciuman sekaligus. Atau sebenarnya saya pun tidak ingin menghilangkannya.

354 total views, 3 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *