Opini

Bertumbuh Tak Cukup Sekali, Mungkin Perlu 33x

Oleh: Nailal Fariha

Perkenalkan, aku Nailal —kakak kelas yang belum sempat kalian jumpai (bagi angkatan 74). Bukan karena aku luput dari jadwal MPLS, melainkan waktuku telah usai untuk hal yang akan segera kubisikkan. Selayaknya kalian memulai jejak pertama di SMA, aku pun juga tengah bersiap menuju dunia perkuliahan.

Sekarang, coba tarik napas dulu. Jangan grogi menapak di sini. Anggap saja seperti simulator pendakian di Roblox. Kuakui jalurnya curam, paniknya bukan main, tetapi kalau sudah di puncak, kamu akan sadar bahwa rasa takut itu tak lebih besar dari keberanianmu sendiri.

Inilah SMA. Yang katanya jatah anak muda untuk bebas berekspresi dan mencari jati diri. Dengan embel-embel:

  • nggak keren kalau nggak bandel,
  • nggak mantep kalau nggak punya circle,
  • nggak lengkap kalau belum punya gebetan.

Tetapi percayalah, kamu tak perlu ikut semua itu agar bisa disebut tumbuh. Sekali lagi, kamu tidak harus gaduh untuk terlihat hidup karena SMA yang sebenarnya adalah proses dimana jati diri itu datangnya perlahan, melewati banyak pertanyaan, dan sepi yang berkepanjangan.

Menoleh dari cerita pribadiku, mendatangi Surabaya yang tak belantara dan cukup menjadi biang lara dan tawa adalah cerita terbaik dari proses tumbuhku yang sebenarnya. Aku akan selalu mengingat ini sebagai sebuah privilese karena bersekolah, bagi sebagian orang, bukan hal yang mudah diraih. Persoalan ini bukan hanya menyangkut keberuntungan, tetapi tersirat tanggung jawab untuk tak menyia-nyiakan. Bayangkan, sudah ada berapa panjatan doa yang menyertai jalanmu sampai MPLS hari ini? Bisa bangun dari kemalasan pagi buta, berjalan dengan bekal ayah bunda, dan disambut bahagia oleh warga Khadijah raya. Maka, langkah kedua, Bersyukur.

Bisa dibilang, MPLS itu baru mencuil hidup SMA. Tetapi, bukan berarti semua itu hanya angin lalu sebab sepengalamanku, MPLS itu bisa menjadi mula untuk kamu menilai diri sendiri. Ini perihal menjadi orang adaptif seperti seberapa mampu kamu bersosialisasi dan menghafal cepat nama teman gugusmu? atau kakak gugus? atau bahkan guru dan staff Khadijah? sampai ada berapa penugasan yang butuh usaha lebih untuk diselesaikan?Iya, PR banget ya kedengarannya. Maka dari itu, kamu harus benar-benar terjun langsung untuk mendapat experience nya. MPLS hanya sekali, masa mau dilewati? Maka langkah terakhir, dijalani ya.

Kalau pesan Perunggu dalam syairnya, “Jalanmu kan sepanjang niatmu” (lirik lagu 33x-Perunggu), maka ini waktu yang tepat untuk menata kembali, menghidupkan nyala-nyala mimpi, dan mencari biang niatmu di sini. Kalau boleh berpendapat, transisi dari SMP ke SMA itu hanya sejengkal saja. Bukan suatu hal yang berbeda jauh, hanya saja, “tiap-tiap dari kalian sekarang adalah nahkoda dari kapal kalian sendiri.

Tak ada ceritanya kamu bersandar penuh pada keputusan dan pemikiran teman. Karena saat sudah berada di atas, tak jarang yang justru ingin turun satu-dua tangga untuk bernapas, bukan menuntun yang masih berdiri di dasar tanah. Kedengarannya kejam, ya? Tapi begitulah adanya.

Memang, di SMA masih bisa bergantung pada teman yang terlihat lebih unggul. Namun, kalau dipikir lagi — bukankah akan jauh lebih bermakna kalau kamu bisa unggul dengan jalanmu sendiri? Sebab tumbuh itu tidak cukup sekali. Bisa saja…33 kali.

Jadi, untuk kamu yang baru menapak, atau yang sedang naik satu tingkat , tak perlu buru-buru tahu segalanya. Tak perlu merasa tertinggal hanya karena langkahmu tak secepat temanmu. Ingat, tak ada satu cara mutlak untuk menjadi “cukup”. Kamu berhak memilih jalan sendiri, ritme sendiri, dan versi tumbuh yang paling kamu pahami.

Jika nanti kamu merasa lelah, tak apa. Beristirahat bukan berarti menyerah. Itu salah satu jalan untuk tetap waras. Alias, lakukan sewajarnya. Tetap libatkan ibadah sebagai poros, penopang, sekaligus pusat dari bangun, belajar, dan tidurmu. Dan jika harus mencoba 33 kali untuk memahami, memperbaiki, atau sekadar berdamai, bagiku, itu pun bagian dari bertumbuh.

Sebab sejatinya, kita sebagai umat Islam tahu: sirkulasi hidup tak akan pernah utuh tanpa menyebut nama-Nya di setiap waktu. Biasakan 33 kali ya! entah itu dzikir selepas salat, pagi dan petang, atau bahkan di jam-jam rawan yang membuat dada terasa kosong, di sanalah hidup kalian kembali terikat pada makna.

Your life is a process that will last through every single day you’re alive – Dikutip dari buku What Now ? Ann Patchett

Dengan tulisan ini, Nailal menitip kisah SMA nya. Bukan sebagai siapa-siapa, hanya seseorang yang pernah duduk di kursi yang kini kalian tempati, dan tahu persis bahwa riuhnya akan kalian rindukan suatu hari nanti.

-Penulis novel Seraya Meruak yang kini dilanda tugas menjelang ospek

756 total views, 6 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *