GuruKeren: Mengenangmu (Eps – 7)

Oleh: Azuma Fikri

Ketika naik kelas menjadi kelas 11 SMA bagi beberapa anak mungkin inilah tahun yang baik untuk bersenang-senang, tapi tidak bagi ku.  Karena di tahun ini juga diriku telah kehilangan seorang guru yang cukup memengaruhi kehidupan dan dikenal dilingkungan sekolah KHADIJAH.

Pada saat itu saya masih ingat kejadiannya di hari Selasa di awal bulan April pagi hari.  Saya mendengar pertama kali berita itu ketika dikabarkan oleh teman saya, Hasan. 

” Bond bapakmu ninggal Lo Bond”

“sopo?.” 

“Pak Masykur”.

” Ngawur awakmu”. 

“Kandani kok”. 

Setengah percaya tidak percaya mata saya langsung tertuju pada arah kantor TU yang saat itu ramai karena banyak guru yang kumpul di depan sana.  Dan akhirnya berita tersebut benar adanya dan diumumkan oleh central, dan saya pun sedikit terdiam tentang berita buruk yang barusan terjadi.

Akhirnya pihak sekolah pun memutuskan untuk memulangkan murid-muridnya lebih awal dan mengajak muridnya untuk ta’ziyah berangkat bersama-sama. 

Ketika semua anak-anak sedang pada kumpul untuk menunggu kendaraan guru untuk berangkat bersama, saya pun memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu karena keburu dimakamkan. 

Akhirnya saya pun pulang dan mengganti pakaian dan segera meluncur menuju ke rumah almarhum dengan bermodalkan motor dan niat baik menuju ke daerah wonoayu di mana masih satu jalur dari rumah saya menuju ke lokasi.

Di tengah perjalanan saya tidak tahu jalan mana untuk menuju rumah almarhum hingga ada salah satu alumni Khadijah yang juga merupakan alumni GCC untuk menawarkan berangkat bersama dan kumpul di SPBU kletek. Sesampainya di sana saya masih belum melihat beberapa guru yang sudah sampai, seketika itu juga saya melakukan shalat jenazah.

Ketika almarhum hendak di bawa ke tempat peristirahatan terakhirnya, sudah banyak sekali orang-orang yang pada kumpul untuk mengantarkan jenazahnya.  Ketika hendak memasukkan jenazah ke liang kubur semua murid SMA Khadijah membacakan tilawah Al-Quran terus menerus tanpa henti sampai tertutup oleh tanah.  Di situ saya hanya merenung dan mengingat masa-masa bersama beliau sambil berdoa dan terus mengingat.

Menurut saya almarhum adalah sosok yang luar biasa ketika mengajar ngaji kepada saya, karena ketika jam mengajar ngaji beliau selalu tidur tapi tidurnya bukan sembarangan karena masih mampu mendengar di mana letak salah dan benarnya bacaan ngaji dari muridnya.  Karena almarhum mengajarkan dengan penuh tanggung jawab, mungkin tanpa adanya jasa almarhum saya tidak bisa mendapatkan sertifikat ngaji dari PIQ.

Sungguh beruntungnya diriku dapat diajarkan dan mengenal almarhum.  Karena sejatinya mengenal adalah kebangkitan bagi kehidupanku dan mendapatkan kenangan bagiku, walaupun terkadang membuatku sedikit bersedih dan malu.  dan jika terlalu dalam mengenang sangatlah tidak baik untuk seorang pelajar,  karena mengenang adalah pekerjaan pensiunan bukanlah pekerjaan seorang pelajar.

Gambar: pinterest.com

#Gurukeren merupakan tulisan cinta dari siswa-siswa SMA Khadijah kepada guru-guru yang mereka anggap meninspirasi di kelas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *