Opini

Resolusi Jihad untuk Negeri: KH. Hasyim Asy’ari

Oleh: Ketut Ghina

Pembaca, izinkan penulis untuk bertanya terlebih dahulu. Dalam memperingati hari pahlawan 10 November ini, siapakah tokoh pahlawan yang sekiranya paling membekas di hati? — bukan, bukan maksud penulis untuk membandingkan, semua pahlawan berjasa dalam membangun bangsa ini, hanya saja, adakah sosok pahlawan yang membuatmu terinspirasi? Terinsiprasi untuk mengenalnya lebih jauh karena karakter yang dimilikinya, terinspirasi berkat nilai-nilai yang dahulu berusaha ditanamkannya, terinspirasi sebab  ia mampu menggerakkan hatimu dalam mencapai cita-cita.

Apakah itu Bung Tomo, sang orator yang penuh keberanian dan kecerdasan dalam mengatur strategi di medan perang? Atau gubernur pertama Jawa Timur, Gubernur Suryo, yang juga merupakan sosok yang tenang dan bijaksana? Mayjen Soengkono dengan segala dedikasi, ketangkasan, dan kehebatannya di bidang militer kah? Moestopo, pendidik cerdas yang juga dijuluki sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia kah? Atau K. H Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama yang fatwanya mampu menggerakkan hati umat Islam untuk berjihad memperjuangkan Indonesia?

Semua pahlawan tentu mempunyai jasa-jasa yang tak pantas untuk dilupakan. Namun, sebagai seorang pelajar yang menempuh pendidikan di sekolah berbasis Nahdlatul Ulama (NU), melihat nama K.H Hasyim Asy’ari hadir dalam daftar tokoh perjuangan 10 November membuatku tertarik untuk menilik lebih jauh terkait sosoknya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti, ‘Bagaimana bentuk perjuangan yang beliau lakukan? Bagaimana cara beliau merangkul dan membangkitkan semangat masyarakat, khususnya umat Islam?’ Dalam artikel ini, semua yang menjadi rasa penasaran penulis maupun pembaca akan terjawab seiring waktu.

Kyai Haji Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul ulama (NU) pada 16 Rajab 1344 hijriyah atau bertepatan dengan 31 Januari 1926 Masehi. NU kala itu berdiri untuk merespons situasi umat Islam yang sedang dilanda pertentangan paham, antara paham pembaharuan dengan paham bermadzhab.

NU hadir dengan paham yang lebih moderat. Umat Islam yang bersikap moderat ialah mereka yang bersikap toleran, menghargai pendapat yang berbeda, selama pendapat tersebut tidak menyimpang. Semua nilai yang ditanamkan Kyai Haji Asyim Asy’ari mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang membawa perdamaian di kalangan masyarakat, khususnya umat muslim.

Sosok pelopor persatuan umat Islam tersebut turut berpartisipasi dalam pertempuran Surabaya 10 November dengan mencetuskan fatwa jihad fii sabilillah dan Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Fatwa tersebut berisi kewajiban berjihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang kemudian memperkuat perjuangan dalam peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Dilansir dari NU.or.id, isi dari fatwa jihad fi sabilillah tersebut yaitu, “Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ’ain yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam, Iaki-Iaki, perempuan, anak-anak, bersenjata atau tidak bagi yang berada dalam jarak Iingkaran 94 km dari tempat masuk dan kedudukan musuh. Bagi orang-orang yang berada di Iuar jarak Iingkaran tadi, kewajiban itu jadi fardlu kifayah (jang cukup, kalau dikerjakan sebagian saja).”

Kemudian isi dari Resolusi Jihad sendiri yaitu:

PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Supaya mengambil tindakan yang sepadan

Resolusi wakil-wakil daerah Nahdlatul Ulama seluruh Jawa dan Madura. Resolusi: Rapat besar wakil-wakil daerah (konsul-konsul) Perhimpunan Nahdlatoel Oelama seluruh Djawa-Madura pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaja.

Mendengar:

Bahwa di tiap-tiap daerah di seluruh Djawa-Madura ternyata betapa besarnya hasrat umat Islam dan alim ulama di tempatnya masing-masing untuk mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAULATAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang:

 1. Bahwa untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Republik Indonesia menurut hukum agama Islam, termasuk sebagai satu kewadjiban bagi tiap-tiap orang Islam.

2. Bahwa di Indonesia ini warga Negaranya adalah sebagian besar terdiri dari ummat Islam.

Mengingat:

 1. Bahwa oleh pihak Belanda (NICA) dan Jepang yang datang dan berada di sini telah banyak sekali dijalankan kejahatan dan kekejaman jang mengganggu ketenteraman umum.

 2. Bahwa semua jang dilakukan oleh mereka itu dengan maksud melanggar kedaulatan Negara Republik Indonesia dan agama, dan ingin kembali menjajah di sini maka di beberapa tempat telah terjadi pertempuran yang mengorbankan beberapa banyak jiwa manusia.

 3. Bahwa pertempuran-pertempuran itu sebagian besar telah dilakukan oleh umat Islam yang merasa wajib menurut hukum agamanya untuk mempertahankan kemerdekaan negara dan agamanya.

 4. Bahwa di dalam menghadapi sekalian kejadian-kejadian itu perlu mendapat perintah dan tuntunan yang nyata dari Pemerintah Republik Indonesia yang sesuai dengan kejadian-kejadian tersebut.

Memutuskan:

 1. Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sebadan terhadap usaha-usaha yang akan membahayakan kemerdekaan dan agama dan negara Indonesia, terutama terhadap pihak Belanda dan kaki-tangannya.

 2. Supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat “sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia merdeka dan agama Islam.

Surabaya, 22-10-1945

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

K.H Hasyim Asy’ari juga pernah menyatakan, “Agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian agama dan keduanya saling menguatkan”. Yang berarti bahwa nasionalisme dan agama memang sepatutnya berjalan beriringan, tidak perlu diperdebatkan maupun dijadikan pertentangan.

Sosok K.H Hasyim Asy’ari yang berusaha menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada umat Islam dengan cara yang moderat, kepribadiannya yang cerdas, cekatan, serta bijaksana, mampu membuat banyak jiwa terinsiprasi untuk meneruskan jejak perjuangannya.

Pembaca, menilik peristiwa sejarah pertempuran 10 November serta perjuangan tokoh-tokoh pahlawan  dalam mencapai kemerdekaan seutuhnya menjadi refleksi bagi kita sebagai generasi muda penerus bangsa. Bahwasannya sudah sepatutnya kita menjaga dengan baik hasil dari semua yang telah diusahakan para pahlawan negeri ini.

Bahwasannya sudah menjadi keharusan bagi kita untuk meneruskan perjuangan, membangun negeri dengan berbagai macam cara yang dapat dipilih sendiri-sendiri.

Bahwasannya sudah sepantasnya kita berbangga hati atas jasa-jasa para pahlawan, dengan mengenang, memiliki edukasi yang cukup terkait sejarah di balik peristiwa-peristiwa bersejarah, serta merayakan hari pahlawan. Sebab bangsa yang senantiasa menghargai jasa pahlawannya, dapat menjadi bangsa yang besar di kemudian hari.

Pahlawanku, inspirasiku, semangat juangku. Selamat Hari Pahlawan Nasional 10 November 2023!

Source: Ambil di sini

*penulis merupakan siswi yang berada di bangku kelas 12 IPS 2

Editor: CIZ

126 total views, 1 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *