Resensi: The Kite Runner, Layang-layang dan Duka

The Kite Runner, novel karya Khaled Hosseini, seorang keturunan Amerika-Afghanistan ini meneritakan persaudaraan, pengkhianatan, kasih sayang dan penderitaan dalam latar konflik di Afghanistan. Novel dengan penjualan terlaris di New York ini cukup mencuri banyak perhatian. Khaled, yang juga menumpahkan rasa rindunya pada Afghanistan menceritakan sisi lain dari Afghanistan. Bagaimana seorang Amir, yang notabene adalah Pahstun-Sunni asli dengan Hassan, seorang syiah yang taat bisa bersahabat dengan akrab.

Perbedaan kelas sosial telah digambarkan sejak awal. Amir, adalah seorang anak dari seorang kaya di Kabul. Sedangkan Hassan adalah anak pelayan keluarga Amir. Tapi dari sekian perbedaan yang ada, tak membuat Amir dan Hassan lantas tak berteman. Mereka tetap bermain bersama layaknya anak-anak pada umumnya. Amir dan Hassan sangat menyukai layang-layang. Amir, yang hebat bermain layang-layang, sangat selaras dengan Hassan yang jago mengejar layangan putus.

Layang-layang kemudian menjadi ajang perlomban diantara anak-anak. Duo Amir dan Hassan tentu tidak terkalahkan. Saat Amir telah memutuskan layangan pesaing terakhirnya, Hassan serta merta berlari mengejar layangan yang putus. Dengan riang, Amir menyusul derap langkah Hassan. Namun naas, saat Amir telah menemukan Hassan, disitu ada Assef, seorang berandalan yang sedang mencegat Hassan. Tak hanya itu, rupanya, Assef juga memperkosa Hassan. Amir yang pengecut pun memilih kabur dan pura-pura tidak tahu.

Dihantui oleh rasa bersalah, Amir malah memperlakukan Hassan dengan tidak baik. Hubungan mereka pun merenggang setelahnya. Tak hanya itu, Amir juga menuduh Hassan mencuri barangnya. Hal itu menyebabkan Hassan dan ayahnya pergi dari rumah Amir.

Latar cerita kemudian sampai pada bagaimana konflik di Afghanistan terjadi. Bagaimana pemberontakan masyarakat pada Soviet yang tiba tiba datang dan mengubah tatanan. Menanamkan paham komunis dari kebudayaan Islam yang telah mengakar dengan kuat di Afghanistan. Dan banyaknya masyarakat yang tidak setuju dengan situasi ini dipaksa meninggalkan Afghanistan. Amir juga ikut dalam gelombang masyarakat yang meninggalkan Afghanistan.

Amir, yang kemudian pindah ke San Fransisco, Amerika dan menikahi gadis cantik bernama Soraya, tiba-tiba mendapat panggilan dari masa lalu. Ia menerima telfon dari teman Baba(ayah)nya yang telah pindah ke Pakistan. Disitu Amir menemukan rahasia yang telah disimpan ayahnya selama ini, rahasia bahwa ia dan Hassan sebenarnya adalah saudara kandung.

Amir yang semakin merasa bersalah kemudian berusaha mencari Hassan. Namun ternyata, Hassan dan istrinya telah meninggal dunia. Amir kemudian menemukan bahwa Hassan meninggalkan seorang anak yang kini ditawan oleh pasukan Taliban yang menguasai Afghanistan. Disini, latar cerita telah sampai pada Afghanistan yang porak poranda. Bahkan untuk berjalan-jalan pun sangat sulit. Tapi, dengan memikul rasa bersalah dan tanggung jawab, Amir kembali ke Afghanistan untuk mencari Sohrab, anak Hassan.

Berbagai rintangan dilalui Amir, membawanya sampai ke pemimpin Taliban, yang ternyata adalah Assef, berandal brengsek musuhnya dan Hassan dulu. Dengan berbagai cara Hassan akhirnya berhasil membawa Sohrab pergi. Dia kemudian mengadopsi Sohrab dan membawanya pulang ke Amerika.

Cerita ini dikemas dengan sangat apik. Bagaimana menggabungkan kisah persaudaraan dan pengkhianatan, dengan latar konflik di Afghanistan, membuat pembaca tidak bosan walaupun sebenarnya novel ini ber genre sejarah. Khaled seperti menuangkan sebagian dirinya di dalam novel ini. Afghanistan, negeri indah yang masih menyimpan duka. (Nailah Rahmah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *