Opini

JALAN RAYA

Oleh: Nesha Aliyah*

Ujian Sekolah, kerap kusebut ‘Usek’. Aku selalu menganggap Usek itu UAS nya tahun akhir, sama seperti UKK (Ujian Kenaikan Kelas). Usekku di kelas 12, hanya berjarak kurang dari 2 hari, 1 Maret 2021.

Saat SMA, aku sadar dan belajar, tiap orang punya hidupnya sendiri sendiri. Aku sebenarnya 1 tingkat lebih tinggi dari angkatanku sekarang, jadi aku banyak berinteraksi dengan ‘kakak kelasku’. Tidak seperti saat SMP, percakapan biasa mereka selalu diselipi dengan saling cek tugas.

“Bungek, Sejarahmu tuntas tah?”

“Marikke.. Tafsir buat nanti boleh liat punyamu?”

“Celsy! Kimiamu kurang satu nomer ya?”

Aku merasa tertinggal karena mereka seperti menjalankan hidup mereka sendiri tanpaku. Jadwal terdekatku hanya persami dan pelajaranku tak terlihat sepadat mereka. Apa mereka suka mengerjakan dekat deadline?

Memasuki kelas 11, aku merasakan perubahan yang sama seperti mereka. Ada banyak agenda tambahan, imbasnya, banyak tugas dimepet-mepetkan.

Terkadang terselip di benakku, ‘Sekarang santai apa kerjakan tugas?’. Sayangnya disiplin mandiriku lemah, tanpa keraguan, aku sering memilih bersantai. Bukannya sombong, tapi inilah kelemahan orang pintar, merasa mudah mengejar, sehingga tak punya daya juang atau usaha tinggi.

Kembali ke Usek, yak.

Mendekati ujian besar, tampak beberapa tipe pelajar diantara kita. Ada yang mengorbankan jam makannya untuk latihan soal, tetap olahraga bola saat sempat, sibuk mendapat kepercayaan orang agar diconteki, hingga orang yang tak pernah tampak berusaha tapi nilai tidak anjlok, sepertiku.

Tipe yang terakhir tentu sering membuat kesal orang yang berjuang keras, memang tidak adil, maaf kawan.

Anda sudah berusaha keras? Ibadah juga sudah keras? Semuanya ikhlas? Mungkin Tuhan ingin menjauhkanmu dari sesuatu yang menyesatkan. Atau bahkan menyuruhmu untuk bisa atur emosi dan kesabaran dulu baru diberi hadiah buah sukses yang memuaskan. Tenang dulu, baru nanti kelihatan pesan Tuhan.

Pengalamanku itulah yang membuatku sadar arti dari kata mutiara Everyone has their own pace, ‘tiap orang punya kecepatannya sendiri’.

“Dia keliatan nganggur jam segini, kenapa kamu ga punya waktu?”
”Dia nggak les, kenapa lebih pintar dia?”

Pertanyaan sepele yang sering diam-diam membuat mental keropos. Ingat, kita manusia, yang bilang gitu juga manusia, hanya bisa lihat kemungkinan dari sisi yang terbatas. Tidak seperti Tuhan yang tahu semua hal bahkan yang belum terjadi.

Seperti jalan raya, yang penuh pengendara, semua punya kecepatannya sendiri.

Jadikan omongan itu sebagai motivasi baru, tidak didengar juga tidak apa. Tunjukkan kamu bisa lebih baik dari dia, di bidang lain. Buat orang yang membandingkanmu percaya, kamu bisa lebih baik, dengan caramu sendiri.
Seperti jalan raya, yang penuh pengendara, semua punya kecepatannya sendiri.

Kamu melewati hari yang buruk, bukan hidup yang buruk. Semuanya akan baru lagi, pada jam 00:00. And you’re gonna be happy.

Seperti jalan raya, yang penuh pengendara, semua punya kecepatannya sendiri.

Sekali lagi. Mastin, good.

Pemula penasaran
Alas api, mengangguk bersama K-Rock
00:01 (27/02/21)

*Penulis merupakan siswa tingkat akhir SMA Khadijah

Gambar oleh jodeng dari Pixabay

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *