Opini

Sepenggal Kisah UPRAK

Oleh: Naila Rahma

Kalau ditanya apakah masa SMA seperti yang disyairkan di lagu-lagu remaja, maka jawabanku ya dan tidak. Masa SMA ku tidak terlalu manis. Alasannya klasik, pandemi.

Pandemi memangkas masa SMA ku hingga sisa setengahnya. Begitu pandemi selesai dan kami mulai menikmati kehidupan SMA yang banyak disakralkan itu, tiba-tiba kami sudah dirongrong oleh deretan jadwal ujian-ujian di tahun terakhir SMA. Rasanya seperti diperlakukan tidak adil tapi tidak ada yang bisa disalahkan. Dengan terpaksa akhirnya ku jalani saja masa ujian yang terkesan tidak berujung itu.

Diantara deretan ujian-ujian itu, ujian praktek salah satu yang berkesan. Di tengah pemahaman teori yang ikut terpotong-potong oleh pandemi, ujian praktek rasanya seperti mimpi buruk. Biar kuceritakan satu-satu mengapa kubilang begitu.

Yang paling menyebalkan tentu saja ujian Kimia. Terus terang aku paling benci Kimia (maaf, Bu Hay). Bagiku, kimia sesuatu yang absurd dan nggak masuk logika. Dari kelas 10 sampai kelas 12, Kimia selalu jadi momok menyebalkan buatku. Seberapapun aku berusaha memahami Kimia, tetap aja nilaiku jeblok. Dalam keadaan tidak suka dan tidak bisa Kimia, Bu Hay memberikan ujian praktek yang semakin menguji kesabaranku.

Beliau menyuruh kami untuk membuat sumber energi baru. Dalam hati aku menggerutu, yang benar aja! (rugi dong). Rasanya seperti tiba-tiba disuruh menyaingi Stephen Hawking atau Nikola Tesla atau siapapun nama-nama besar itu. Akhirnya, aku mencari referensi di YouTube. Ketemulah salah satu video yang aku rasa mungkin bisa kuadaptasi.

Kemudian aku dan temen-temen kelompok mulai mengumpulkan bahan dan alat dengan antusias. Ketika itu aku merasa sudah siap menorehkan namaku di sebelah nama bapak teknologi Indonesia, B.J. Habibie. Tapi ternyata, tidak semudah itu. Saat itu kami berusaha membuat baterai daur ulang dari baterai bekas dan aki.

Setelah rangkaian jadi, kami berusaha menyambungkannya dengan lampu kecil. Berkali-kali kami coba tetap saja lampu itu tidak mau nyala. Padahal, saat kami ukur arus listriknya menunjukkan angka yang cukup tinggi. Dikarenakan hari besoknya sudah harus dipresentasikan di depan Bu Hay, kami pun nekat membawa projek setengah jadi itu apapun yang terjadi. Benar saja, besoknya saat presentasi di depan Bu Hay, lampu itu tetap tidak mau menyala. Akhirnya kami disuruh mundur dan memperbaiki dulu oleh beliau.

Rasa-rasanya saat itu aku pengin buang aja rangkaian buatan kami itu dan kabur dari sekolah saking frustrasinya. Tapi kemudian ternyata ada penyelamat. Yusuf, teman kami itu meminjamkan bel kecil sebagai pengganti lampu dan karena watt nya jauh lebih kecil, bel itu berhasil menyala dengan rangkaian kami. Legaaa sekali rasanya.

Sayangnya uprak bukan hanya ada di Kimia. Mata pelajaran lain yang menurutku menyusahkan adalah Fisika, Biologi, Seni Budaya dan Bahasa Indonesia. Lucunya, malam sebelum ujian praktek Fisika, aku dan beberapa teman sekelas malah datang ke konser Tulus.

Kami berteriak-teriak seolah tidak peduli meski besok Pak Sendy akan menyebut nama kami untuk mengulang ujian praktek di hari Sabtu. Toh, umur tujuh belas tahun tidak akan terulang lagi, jadi kalau bisa senang-senang, buat apa pusing mikirin Fisika?, pikirku saat itu.

Ujian praktek Bahasa Indonesia cukup unik menurutku. Ya seunik guru pengampunya sih. Kami disuruh buat novel biografi diri sendiri (jatuhnya autobiografi, ga sih?). Sebenarnya menurutku tidak terlalu berat. Dari kecil aku udah suka dengan tulisan. Meski lebih suka membaca daripada menulis.

Meski begitu, ternyata menulis biografi itu tidak semudah itu. Membuka-buka lagi memori yang tidak semua menyenangkan cukup merepotkan. Belum lagi harus menuliskannya terkadang terasa menggelikan. Serasa sedang melakukan pengakuan dosa hahah. Tapi setelah kubaca lagi tugas uprak Bahasa Indonesiaku baru-baru ini, jujur saja menurutku uprak Bahasa Indonesia cukup menyenangkan. Mungkin lain kali aku mau menulis ulang novel itu versi diriku yang lebih baik.

After all, kelas dua belas nggak datang dua kali. Suatu saat sekeras apapun kita meminta agar dikembalikan ke masa-masa itu, masa dimana ujian datang tak kenal ampun, masa dimana rasanya hidup dan masa depan cuma bergantung pada merah biru penerimaan universitas, masa dimana semuanya tiba-tiba berlabelkan ‘’terakhir’’, hal itu nggak akan terjadi.

Kelas dua belas buatku bukan waktu yang benar-benar menyenangkan. Tapi bukannya hidup emang gitu ya? Mana mungkin senang terus. Jadi, paling tidak, aku punya sesuatu untuk dikenang. Just live your life before it’s gone :p

Penulis merupakan Alumnus SMA Khadijah 2023

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *