Opini

MIMPI YANG NYATA?

Oleh: Viny Alvionita

Sedikit bercerita mengenai perjuangan saya dalam SNBP yang sudah saya niatkan sejak masuk bangku SMA. Mengejar nilai akademik maupun non akademik telah saya lalui meskipun di era gempuran pandemi Covid-19, saya tetap mencoba semaksimal mungkin untuk tetap produktif.

Pelajaran di kelas tentu saya tekuni sebaik mungkin, sampai saya mengejar nilai plus dari menjawab beberapa pertanyaan guru saat mengajar. Terbilang cukup ambisius karena setiap kali ada waktu saya usahakan untuk dapat poinnya.

Semangat dan rasa akan haus ilmu terus membara di diri saya, mengingat apa yang saya impikan kedepannya harus di perjuangkan sebaik mungkin.

Saya juga terbilang aktif berorganisasi. Hal ini membuat saya punya banyak relasi, mulai dari teman, guru, hingga alumni. Membuat saya mendapat banyak cerita pengalaman dari setiap individu yang bisa memotivasi saya untuk selalu semangat. Informasi-informasi seputar pendidikan berikutnya hingga karir yang sangat bermanfaat juga saya dapatkan.

Tak hanya itu, mengikuti beragam lomba membuat saya belajar banyak hal yang sebelumnya belum saya ketahui. Mengasah pemikiran dan skill yang saya miliki. Mulai dari kalah hingga menang juga pernah saya lalui dengan ikhlas dan memetik pelajaran terbaik.

Semuanya saya persiapkan dengan semaksimal mungkin. Hingga saatnya tiba di bangku 3 SMA, pengumuman eligible. Pengumuman yang menjawab semua kerja keras saya selama ini, menyatakan saya berada di eligible 2 jurusan MIPA.

Senang? Tidak, saya tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa saya sempat patah semangat dan sedih. Bagaimana tidak? Waktu dan tenaga yang saya curahkan selama ini nyatanya membuahkan hasil yang masih belum maksimal.

Saya yang berada di eligible 2, lantas tak bisa sesuka hati memilih prodi dan univ yang saya inginkan. Kegundahan hati itu segera saya diskusikan dengan keluarga. Alhamdulillah saya mendapat pencerahan, bahwa masih banyak pilihan terbaik lainnya yang bisa saya ambil. Akhirnya saya putuskan mendaftar snbp dengan prodi dan univ baru yang sudah saya pertimbangkan baik-baik.

26 Maret 2024, siang dini hari pulang sekolah, usai ujian yang melelahkan. Saya putuskan untuk membaca Al Quran agar pikiran dan hati tidak terlalu overthinking tentang pengumuman snbp.

Nyatanya, hal tak terduga terjadi. Dimana saya tertidur sampai pukul 4 sore. Padahal pengumuman snbp seharusnya pukul 3 sore. Segera saya mandi dan shalat ashar sebelum membuka pengumuman snbp kala itu. Saya putuskan untuk membuka sendiri tanpa dampingan keluarga dan JRENGG “Selamat Anda Dinyatakan Lolos SNBP 2024”.

Alhamdulillah, saya berlari menuju kedua orang tua dan memberi kabar baik sore itu. Diikuti dengan tangis haru yang tak terbendung. Pengumuman snbp menyatakan bahwa saya dinyatakan lolos di prodi Kedokteran Universitas Brawijaya, ini adalah pilihan pertama saya di kartu snbp. Pilihan yang dianjurkan dan diridhoi oleh kedua orang tua saya.

Menjadi dokter adalah impian saya sejak kecil yang saya tekuni dan perjuangkan sampai sekarang. Prosesnya memang akan lama dan berat, namun konsekuensi itu sudah saya mantapkan dalam diri sejak lama.

Sekarang adalah sekarang, terus berproses demi meraih cita-cita serta menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.

Dari sini saya sadar, bahwa kita sebagai manusia memang bisa berencana, bisa menyusun beragam rangkaian alur kehidupan yang kita inginkan. Tapi tetap satu, Allah yang menentukan. Allah tahu mana yang terbaik untuk hambanya. Dan apabila sesuatu itu tak bisa kita gapai, yakin bahwa Allah pasti punya rencana yang lebih baik dan tak terduga.

Semangat terus untuk kita semua! Sedih itu wajar, asal jangan sampai larut dalam kesedihan itu. Berlatih untuk terus bangkit hingga kata “Semangat” berubah menjadi “Selamat”.

Ruang tamu
Minggu, 7 April 2024
menulis dengan hati bahagia

*Penulis novel Kediaman Abadi yang juga penerima SNBP 2024 di Prodi FK Univ. Brawijaya

405 total views, 3 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *