Opini

Khadijah: Yang Terkenang hingga Berkunang-kunang

oleh: Kayla Aghniya

Pengumuman kelulusan sudah dirilis, UTBK sudah didepan mata. Tapi aku masih menolak fakta kalau masa SMA-ku sudah selesai. Rasanya, suara Bu Evi yang menggelegar mengulang kata-kata yang sama setiap pagi masih terdengar jelas. Juga gedoran pintu dini hari yang samar-samar masih membangunkanku hingga kini.

Bukannya aku tidak bersyukur atas kelulusanku, tapi aku belum ingin berpisah dengan Khadijah dan seisinya. 6 tahun bukan waktu yang sebentar, aku sudah terbiasa dengan segala sesuatu yang ada di Khadijah. Mulai dari lingkungan, teman-teman, guru-guru, dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di Khadijah.

Aku terlanjur terbiasa dengan suasana saat istirahat atau jamkos, jumatan di sekolah bagi siswi, baca kitab, gebrakan meja Pak Shodiq saat akan ikrar siswa, membaca istigfar ketika awal pelajaran Pak Nurman, menyanyikan lagu nasional saat pelajaran Pak Muchlas, menjawab salam awal pembelajaran Pak Shodiq yang lebih dari tiga kali, pulang mepet maghrib, dan kebiasaan yang lain yang ada di Khadijah.

Terlanjur terbiasa dengan durasi sholat jama’ah di asrama yang luar biasa. Sholatnya hanya lima sampai tujuh menit tapi dzikir dan amalan-amalan lainnya bisa sampai berjam-jam. Khususnya ketika malam Jum’at.

Terlanjur terbiasa dengan antrian makan dan mandi. Terbiasa makan pizza bersama kalau ada anak asrama yang ulang tahun. Terbisanya menggila bareng anak-anak asrama lainnya.

Selama 6 tahun di Khadijah, tentu banyak kenangan yang membekas. Kebersamaan dengan teman-teman. Kebersamaan dengan bapak ibu guru. Suasana ketika Khadijah Bersholawat. Momen-momen ketika wisata. Euforia saat lomba. Peringatan Maulid di asrama yang konsumsinya selalu istimewa. Senam bareng seasrama ketika asrama lockdown. Dan masih banyak lainnya.

Juga, ada hal-hal unik di Khadijah punya kesan tersendiri. Seragam yang disebut seragam batik padahal tidak ada unsur batiknya, yang malah dipenuhi logo yayasan. Yah walaupun begitu, seragam ini adalah seragam favoritku karena punya dua saku baju.

Ada juga upacara yang belum tentu dilaksanakan sebulan sekali. Tak lupa, dua rusa kesayangan yang ada di taman, walaupun yang satu sudah tumbang sih. Sekolah mana yang punya rusa kalau bukan Khadijah. Khadijah gitu lho…

Banyak juga ilmu dan pengalaman yang aku dapat selama di Khadijah. Salah satunya pengalaman sambutan. Pertama kali aku memberi sambutan adalah ketika wisuda SMP.

Saat itu, aku ditunjuk sebagai perwakilan siswa untuk memberi sambutan. Yah, walau wisuda masa pandemi cuma dihadiri sedikit orang, rasa deg-degannya tetap wah. Keliatan jelas kalau aku gugup maksimal. Mengucapkan salam saja, suaraku bergetar. Mengucapkan nama Pak Sani, aku belepotan.

Tapi di SMA, aku mulai terbiasa memberi sambutan. Yah, terbiasa karena keadaan. Sampai akhirnya, aku bisa merasa lepas saat memberi sambutan terakhirku di sertijab POSKHA. Bisa dibilang, itu adalah sambutan terbaikku selama ini. Kalau aku tidak sekolah di Khadijah, belum tentu bisa begini.

Sedih rasanya berpisah dengan Khadijah karena aku harus berpisah dengan bapak ibu guru, ibu-ibu pengasuh asrama, dan teman-teman. Di Khadijah, baik SMP maupun SMA, aku punya bapak ibu guru yang tulus ikhlas kepada murid-muridnya. Aku juga sering dibuat terharu dengan perhatian, kasih sayang, dan dukungan dari bapak ibu guru.

Istilah “guru adalah orang tua kedua” sangat terlihat dari ketulusan bapak ibu guru selama ini. Bapak ibu guru tulus memberikan doa, ilmu, dan nasihat kepada kami. Juga, ibu-ibu pondok yang selalu perhatian. Ibu-ibu pondok banyak memberikan nasihat terutama dalam hal-hal berbau agama seperti amalan-amalan untuk mempermudah urusan kita. Amalan-amalan ini adalah ilmu yang “mahal”.

Di Khadijah, aku juga bertemu dengan banyak teman-teman super baik. Teman-teman yang selalu memberikan dukungan satu sama lain. Teman-teman yang selalu ada untuk satu sama lain di segala situasi. Yang bisa menjadi penyemangat saat diri mulai penat. Yang bisa diajak menggila bersama. Belum tentu kedepannya aku bisa punya guru dan teman seperti mereka di tempat lain.

Meskipun berat rasanya berpisah dengan Khadijah, nyataannya aku sudah lulus sekarang. Aku tidak perlu lagi bergelut dengan kerudung Hari Rabu yang susah diatur, tidak perlu lari-lari di pagi hari dari asrama menuju kelas karena aku berangkat mepet, dan tidak perlu takut dicegat Bu Lely karena terlambat.

Untuk adik-adikku yang masih menghabiskan sisa waktu di Khadijah, jangan dicontoh beberapa hal yang kurang baik di atas. Manfaatkan sisa waktu yang kalian miliki dengan sebaik mungkin. Manfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada di Khadijah untuk mengembangkan potensi diri kalian.

Hal-hal yang kita dapatkan di Khadijah banyak yang bisa dijadikan bekal untuk kedepannya. Jadi, kurangi bolos-bolosnya. Nikmati juga sisa masa SMA kalian dengan seimbang. Jangan sampai jomplang sebelah. Belajar penting tapi jangan terlalu diforsir. Main dengan teman juga penting tapi jangan terlalu berlebihan. Eksplor kemampuan kalian dan hal-hal di sekitar kalian. Jangan takut belajar hal baru karena itu bisa jadi bekal yang berharga untuk kedepannya.

Ilmu, pengalaman, dan dukungan bapak ibu guru, ibu-ibu pondok, serta teman-teman yang kuperoleh selama enam tahun ini rasanya sudah cukup untuk jadi bekal melanjutkan perjalananku kedepannya. Perjalanan masa kuliah yang semoga dapat kujalani di universitas impianku, ITB, lalu semoga aku dapat melanjutkan masa kuliah sambil menambah pengalaman dengan berjuang di negeri orang.

Terima kasih untuk kenangan indah yang menghiasi masa sekolah.

See you again Khadijah

Penulis merupakan alumnus SMA Khadijah 2023, Ketua OSIS 2021 sekaligus penulis novel Rumah Kata.

source pict:https://pin.it/2OXhUlW

1,014 total views, 3 views today

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *